AB, Golongan Darah Paling Langka di Dunia

0
216
Ilustrasi Darah AB

SENTANI, Reportasepapua.com – Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Papua mengalami kesulitan untuk mendapatkan golongan darah AB. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Harian PMI Provinsi Papua, Zakius Degei kepada wartawan.

“Untuk golongan darah lain seperti A, B dan O itu aman, tapi golongan darah AB ini sangat sulit” katanya di Sentani, Kamis (15/08).

Terkait dengan ketersedian darah, khususnya golongan darah AB di Unit Transfusi Darah (UTD) yang tersebar di seluruh rumah sakit di Provinsi Papua, Degei mengakui bahwa memang koordinasinya kurang antara PMI dan semua UTD.

“Karena ini kebutuhan masyarakat dan orang banyak, sehingga kedepan kami akan berusaha supaya UTD itu bisa bekerjasa sama dengan semua pihak agar lebih aktif lagi supaya kebutuhan darah itu bisa terpenuhi di Papua, karena UTD inikan ada dibawah PMI” tukasnya.

Degei juga mengungkapkan, kurangnya ketersediaan darah AB di seluruh UTD di Provinsi Papua bukan karena kurangnya kesadaran masyarakat untuk mendonorkan darah tetapi menurutnya, memang golongan darah AB ini adalah golongan darah yang paling langka di dunia.

“Kesadaran masyarakat di Papua pada umumnya sangat tinggi untuk mendonorkan darah. Contoh kita selalu bekerja sama dengan gereja, LSM dan berbagai pihak untuk melakukan kegiatan donor darah dan antusiame masyarakat untuk mendorokan darah itu cukup tinggi hanya saja, memang untuk golongan darah AB ini sangat sulit” ujarnya.

Reportasepapua.com melansir berbagai sumber, dari seribu orang pendonor darah hanya terdapat sekian persen saja pendonor yang memiliki golongan darah AB. Bahkan angkanya tidak lebih dari sepuluh persen.

Lalu mengapa golongan darah AB bisa jadi yang paling langka? Dr Leslie Silberstein dari Harvard Stem Cell Institute menjelaskan golongan darah AB langka karena alasan faktor genetik.

“Kita mewarisi genetik untuk golongan darah ini dari kedua orang tua. Kode genetik yang menentukan protein antigen apa yang muncul di sel darah merah kita nantinya,” kata Silberstein seperti dikutip dari Live Science terbitan, Senin (28/3/2016).

Dikatakannya, ketika seseorang memiliki kode gen untuk golongan darah A dan pasangannya juga punya gen untuk A atau O, maka sang anak akan memiliki golongan darah A. Kode gen O dalam hal ini pengaruhnya tak begitu kuat sehingga ia baru bisa muncul ketika seseorang memiliki dua pasang gen untuk kode O.

Oleh karena itu pemilik golongan darah AB baru bisa muncul bila seseorang memiliki kode genetik untuk A dan juga B.

Sementara berdasarkan data yang dimiliki Stanford School of Medicine diperkirakan golongan darah O dimiliki sekitar 44% populasi dunia, disusul darah A sebanyak 42%, lalu B sebanyak 10%, dan terakhir AB sebanyak 4%.

Silberstein mengatakan dari jumlah kasar populasi tersebut terlihat jelas bahwa kemungkinan terjadinya perkawinan yang mempertemukan informasi genetik untuk golongan darah A dan B lebih sedikit di bandingkan dengan golongan lainnya.

Meski langka, Silberstein mengatakan ada hal positif yang bisa didapat oleh orang yang bergolongan darah AB. Karena antigennya yang unik mereka bisa mendapatkan transfusi dari golongan darah apa saja. (yurie/fds/up-detikcom/posbelitung.co/ live science)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here