JAYAPURA, Reportasepapua.com – Masyarakat dan mahasiswa dari wilayah Meepago mendesak Asosiasi Bupati Meepago untuk segera membuka akses transportasi darat dan udara.

Hal itu diungkapkan lewat aksi demo damai di halaman DPR Papua yang dilakukan oleh ratusan mahasiswa Meepago yang ada di Kota Jayapura, Selasa (7/6), siang.

“Kami mahasiswa wilayah Meepago memohon dengan tegas kepada Asosiasi Bupati Meepago segera membuka kembali akses transportasi laut dan udara lebih khusus Pelabuhan Samabusa di Nabire dan bandara udara di wilayah Meepago,” tegas Ketua Forum Mahasiswa Paniai, Arkulian Gobai ketika
membacakan pernyataan sikap dihadapan Wakil Ketua Komisi IV DPR Papua, Thomas Sondegau, ST, didampingi Anggota DPR Papua asal Meepago diantaranya Apeniel Sani, Alfred F Anouw, SIP, Mesak Magai, SSos, MSi dan Laurenzus Kadepa.

Selain itu juga, ratusan mahasiswa yang berasal dari Kabupaten Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai dan Intan Jaya ini, mendesak kepada Asosiasi Bupati Meepago untuk segera menyiapkan pesawat dan kapal khusus, untuk siswa yang melanjutkan kuliah di perguruan tinggi setiap kota studi se Indonesia.

Bahkan tidak hanya itu, mereka meminta kepada pemerintah daerah di wilayah Meepago segera melakukan rapid tes massal secara gratis bagi pelajar yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi ke setiap kota studi.

“Kami mahasiswa Meepago juga meminta kepada Pemda wilayah Meepago segera melakukan rapid test massal secara gratis bagi orang tua yang selama ini masih bertahan hidup di kota studi di seluruh Indonesia. Jika tidak ditaggapi, maka kami mahasiswa Meepago se Indonesia siap menyerukan untuk membubarkan Asosiasi Bupati Meepago,” tandas Arkulian Gobai.

Untuk itu, lanjut Arkulian Gobai, mahasiswa asal Meepago Kota Studi Jayapura yang terorganisir dalam Forum Peduli SDM akan melakukan aksi damai untuk meminta kepada Asosiasi Bupati Meepago untuk membuka askses bandara dan pelabuhan laut.

“Kami meminta DPR Papua untuk menindaklanjuti aspirasi ini kepada Asosiasi Bupati Meepago. Kami buat aksi ini untuk kepentingan adek-adek kami yang sudah lulus ujian agar bisa melanjutkan kuliah di setiap kota studi dan masyarakat Meepago yang ‘terlockdown’ di seluruh kota studi se Indonesia bisa pulang,” ujarnya.

Setelah menerima aspirasi itu, Wakil Ketua Komisi IV DPR Papua, Thomas Sondegau, ST mengatakan, jika Komisi IV DPR Papua telah dua kali melakukan rapat bersama Dinas Perhubungan Provinsi Papua dan pihak Bandara Sentani, termasuk dengan maskapai penerbangan terkait soal pembukaan transportasi udara juga laut.

“Aspirasi ini kami terima. Tapi sebelum adek-adek datang ke sini, kami sudah koordinasi supaya akses transportasi ke wilayah Meepago dibuka. Kami sudah rapat dengan Dinas Perhubungan dan Bandara juga beberapa maskapai, untuk buka transportasi,” jelas Thomas Sondegau.

Bahkan, Thomas Sondegau mengaku sudah menyampaikan hal itu kepada para bupati di Meepago untuk membuka akses transportasi laut dan udara.

“Puji Tuhan, untuk wilayah Meepago sudah diizinkan penerbangan Wings Air yakni hari Kamis dan Selasa. Untuk Pelabuhan, kami sudah meminta kepada Dinas Perhubungan Papua untuk menyurati Bupati di Meepago untuk membuka akses, agar adik-adik pelajar dan mahasiswa dan orang tua yang terlockdown di Kota Jayapura, agar bisa pulang,” ujar Thomas.

Untuk itu, Thomas Sondegau mengingatkan agar dalam proses ini, jangan sampai justru membuat penyebaran virus Corona atau Covid-19 masuk ke wilayah Meepago, sehingga harus mengikuti protokol kesehatan. Karena wilayah Meepago seperti Kabupaten Dogiyai, Deiyai, Paniai dan Intan Jaya masih zona hijau, kecuali Nabire yang sudah ada positif Covid-19.

“Ini yang harus menjadi perhatian serius. Jangan sampai ini terjadi karena berdasarkan pengalaman ketika DPR Papua mengirim masyarakat pulang ke daerah, ternyata sampai di kampung justru membawa Covid-19. Jadi kita harus hati-hati, kita mau selamatkan rakyat di daerah atau cari jalan lain,” tekannya.

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPR Papua Mesak Magai setuju untuk membuka akses transportasi penerbangan dan pelabuhan laut ke wilayah Meepago.

“Ini karena ada tiga kelompok manusia yang harus diselamatkan, yakni masyarakat Meepago yang terlockdown di luar dari Nabire baik di dalam Papua maupun luar Papua, kedua masyarakat luar yang ikut terlockdown di Meepago dan ketiga adalah kita harus selamatkan adek-adek kita yang lulus SD, SMP dan SMA untuk bisa melanjutkan pendidikan di luar dari Meepago,” paparnya.

Namun pihaknya bersyukur karena sudah ada akses penerbangan Wings Air dua kali seminggu. Hanya saja itu tidak cukup karena penumpang masih terbatas, bahkan tiket Wings Air sudah habis sampai 30 Juli.

“Nah, ini perlu penambahan penerbangan dan pembukaan pelabuhan,” pungkasnya. (Tiara)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here