Delapan Mahasiswa Papua Yang Ada di Banten Dapat Bingkisan Natal dan THR dari Ketua DPD Gerindra Papua

JAYAPURA, REPORTASEPAPUA.COM –  Masih dalam suasana Natal, sekitar 8 orang mahasiswa/i dari berbagai kabupaten di Papua yang melanjutkan study di Kota Banten mendapat bingkisan Natal dan THR dari Ketua DPD Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Provinsi Papua, Yanni SH.

Awalnya 8 delapan mahasiswa/i ini menemukan Ibu Yanni lewat media sosial (Faceebook) lalu kemudian menghubungi ibu melalui Messenger. Alasan ingin bertemu dengan Ibu Yanni, lantaran ada berbagai hal yang ingin disampaikan langsung termasuk ingin menyampaikan aspirasi kepada ibu Yanni.

Kedelapan mahasiswa/i itu, dari Kabupaten Sarmi tiga orang, Biak Numfor satu orang, Waropen satu orang, Bovendigoel satu orang dan Yapen dua orang.

Salah satu perwakilan mahasiswa asal Kabupaten Sarmi, Hanok Simes yang melanjutkan pendidikan disalah satu perguruan tinggi di Provinsi Banten yakni Universitas Sultan Ageng Tirtayasa mengatakan, setelah bertemu dengan ibu Yanni, yang jelas senang dan ada rasa kebangaan tersendiri karena sudah bertemu secara langsung dengan Ibu yang selama ini hanya bisa melihat sosok ibu Yanni lewat media sosial maupun dalam pemberitaan-pemberitaan kegiatan partai dan kegiatan DPR.

“Kami merasa senang karena kedatangan kami disambut baik oleh ibu Yanni. Ibu menyambut kami dengan senyuman khas ibu yang begitu hangat buat kami. Kami merasa bahagia terharu tapi juga bangga karena masih dalam suasana Natal, ibu bersedia menerima kami di kediamannya,” kata Hanok Simes ketika dihubungi Reportase Papua lewat via telepon, Senin (28/12), semalam.

Apalagi kata Hanok, kami ini jauh dari orang tua, tetapi saat ini kami bisa duduk bersama-sama dengan seorang ibu yang tulus dan berhati mulia.

“Kedepan kami berharap, lewat pertemuan ini, ada komunikasi antara kami mahasiswa Papua dengan pemerintah. Sehingga apa pun kendala-kendala yang kami hadapi disini, bisa dijawab oleh pemerintah daerah,” tandasnya.

Selain itu lanjut Hanok Simes, kami juga sempat menyampaikan kepada ibu Yanni, bahwa beberapa aspirasi maupun kendala lainnya yang kami rasa sangat perlu dan memang kami alami disini.

“Yang menjadi harapan terbesar kami salah satunya adalah pembangunan asrama Papua. Karena di Banten ini belum ada asrama khusus mahasis/i Papua. Jadi kami ingin pemerintah bangun satu asrama buat kami yang ada disini. Karena selama ini kami hanya bisa kos. Itu pun biaya untuk bayar kos kadang terlambat bayar, karena belum dapat kiriman. Jadi kami anak-anak Papua berharap yang kuliah disini, ada pembangunan asrama di kota study kami,” harapnya.

Kendala lainnya kata Hanok, adalah masalah biaya bantuan study dari pemerintah daerah. Padahal ia dan teman-teman lainnya tahu ada bantuan dari Pemda, khususnya dari pemerintah kabupaten kami masing-masing.

“Tapi bantuan biaya pendidikan itu tidak selamanya kami dapatkan karena di dalam penyaluran bantuan itu biasanya kami mengirim berkas tetapi berkas kami itu kadang tidak di jawab oleh pemerintah,”bebernya.

Namun diakui, jika ini merupakan pertemuan yang pertama dengan ibu Yanni, karena sebelumnya Hanok dan teman temannya tak pernah jumpa dengan ibu Yanni.

“Kami mengenal sosok ibu Yanni hanya dari media sosial (FB). Kemudian saya menghubungi ibu lewat Messenger lalu mengirim pesan ke ibu untuk minta nomor kontak WA ibu, akhirnya puji Tuhan, ibu langsung merespon. Sehingga komunikasi itu saya lanjutkan lewat WA,” ujar Hanok

Dikatakan, ibu Yanni sebagai sosok ibu yang baik hati, rendah hati dan mempunyai hati yang tulus. Walaupun kami berbeda-beda suku, agama, budaya, tapi ibu Yanni mau merangkul kami dalam perbedaan itu.

“Ibu Yanni juga adalah salah satu perempuan kuat dan tangguh namun penyayang serta kharismatik yang sudah empat periode duduk di DPR Papua. Kami salut dan bangga sama ibu. Dia satu-satunya perempuan yang sudah empat periode di DPR Papua, semoga ini bisa menjadi motivasi bagi kaum perempuan lainnya, bahwa perempuan juga bisa,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Nelce Onim yang juga salah satu mahasiswi asal Kabupaten Waropen mengatakan, pertama kali bertemu dengan sosok ibu Yanni, senang dan bangga karena akhirnya bisa bertemu langsung dengan beliau yang ternyata aslinya, beliau begitu baik dan bersahaja.

“Kami bangga dan sangat senang karena bisa bertemu langsung dengan ibu. Ibu Yanni orangnya asyik dia orangnya open sama kita. Kami menilai ibu adalah sosok yang mau mengayomi kami. Ibu begitu baik. Ini pertama kalinya kami bertemu secara langsung sama ibu. Kami pun langsung akrab dengan beliau karena ibu juga orangnya care kepada kami. Ternyata, bertemu dengan ibu tidak sesulit yang kami bayangkan, karena ternyata ibu orangnya open dan sangat baik,” ungkap Nelce Onim.

Nelce Onim menyatakan, mudah- mudahan aspirasi yang sudah disampaikan oleh teman kami tadi itu, ibu dapat membantu kami untuk menyampaikan kepada pemerintah daerah.

“Terutama pembangunan asrama dan biaya studi dari pemerintah dalam hal ini dari kabupaten masing-masing itu bisa tersalurkan kepada kami yang ada disini, “imbuhnya.

Menanggapi aspirasi dari para mahasiswa itu, Yanni yang juga merupakan anggota DPR Papua mengatakan, jika aspirasi adik-adik mahasiswa ini seperti pada umumnya yaitu keluhan dari adik-adik mahasiswa tentang uang SPP lalu uang transferan-transferan dari kabupaten, itu yang mengalami kendala dan keterlambatan.

Lalu kemudian keluhan lainnya kata Yanni adalah tenpat tinggal atau asrama untuk mereka, itu belum ada sehingga mereka mau tidak mau harus kos. Dimana tiap bulannya harus bayar sendiri.

“Nah itu juga menjadi masalah dan menurut saya, hal hal seperti ini dengan dana Otonomi Khusus (Otsus) yang begitu besar dan diperuntukkan untuk pendidikan sebenarnya kan tidak boleh terjadi hal seperti itu. Kita menuntut bahwa generasi emas Papua, tetapi generasi emas Papua ini yang saya temui itu tidak seperti yang digaungkan. Ini masih banyak hal hal yang harus diperbaiki dan tidak boleh terjadi seperti itu,” tandas Yanni.

Apalagi adik-adik mahasiswa inilah merupakan penerus yang akan datang untuk Papua yang kita cintai.

“Bagaimana Papua mau menjadi besar kalau generasi-generasi ini mengalami kendala di bidang pendidikan dan ini mungkin bukan hanya satu dua aspirasi, dimana-mana saya jalan walaupun bukan bidang saya, tapi itulah yang saya temui. Tetapi karena ini sudah menjadi perhatian dan tanggungjawab kita bersama,” kata Yanni lewat via telepon.

Dengan melihat seperti itu, Srikandi Gerindra Papua ini tak tega untuk lepas tanggungjawab apalagi sampai mengatakan itu bukan bidangnya. Sebab sebagai wakil takyat, dirinya merasa terpanggil untuk sebisa mungkin membantu menyampaikam aspirasi dari masyarakat maupun para mahasiswa yang melanjutkan studi di luar Papua.

“Tidak bisa saya mengatakan itu bukan bidang saya terus lepas tanggungjawab. Tapi aspirasi ini tetap saya akan teruskan kepada komisi terkait, yaitu anggota Komisi V DPR Papua yang membidangi Pendidikan, pak Natan Pahabol, yang juga merupakan kader dari Partai Gerindra. Ini nanti ada menginstruksi dari Fraksi untuk dia lebih memperhatikan. Jadi kita bicara generasi mas Papua tetapi inilah yang sebenarnya harus mendapatkan perhatian yang benar benar dan sungguh sungguh,” tekannya.

Kaya Yanni, sekalipun ini sudah diluar jam kantor tetapi untuk menerima anak anak mahasiswa ini, saya pikir kapan saja bisa, selagi saya berada disini dan saya tidak merasa keberatan untuk menerima mereka.

“Jadi sebentar lagi saya ajak mereka makan malam bersama dan sekaligus memberikan bingkisan Natal juga THR satu orang 1 juta untuk mereka. Dengan harapan mereka menuntut ilmu dan bisa kembali dengan membawa prestasi yang membanggakan orang tua serta bisa membangun tanah Papua. Dan yang terpenting dijauhi dari pergaulan pergaulan yang tidak baik, dijauhi dari Narkoba, dijauhi dari pergaulan bebas dan juga dijauhi dari virus corona atau covid-19 yang sedang melanda negara kita dan terlebih khsusnya di Papua yang kita banggakan ini,” pungkasnya.

Sekedar diketahui, delapan mahasiwa/i yang berasal dari sejumlah kabupaten di Papua yakni :
1. Hanok Simes mahasiswa Kabupaten
Sarmi.
2. Frans Yohanes Miokbun mahasiswa
Kabupaten Biak Numfor
3. Monika Kabangho, mahasiswa Bovendigul

4. Yustin Adelina Mangku, mahasiswa Sarmi
5. Nelce Onim, Biak Numfor

6. Oskar Klouw, Kabupaten Sarmi
7. Shanti Bonai Kabupaten Yapen
8. Lisna Tapain, Kabupaten Yapen.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

22,041FansSuka
2,813PengikutMengikuti
17,800PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles