Dewan Paroki Sebut Pembangunan Gedung Gereja Katolik Sang Penebus Sudah Sesuai Aturan

0
851
Proses pembangunan gedung Gereja Katolik Sang Penebus Sentani. foto : Yurie

SENTANI, Reportasepapua.com – Menanggapi pernyataan, Paul Leo bahwa sistem yang digunakan dalam pembangunan gedung Gereja Katolik Sang Penebus Sentani tidak benar, dewan Paroki dan panitia pembangunan gedung gereja tersebut angkat suara.

Menurut mereka, apa yang dikatakan oleh Mantan Ketua Dewan Paroki tersebut tidaklah benar karena proses pembanungunan gedung gereja ini sudah sesuai dengan aturan yang berlaku.

Pastor Paroki Sang Penebus Sentani, Norbertus Broery Renyaan OFM dalam konferensi pers yang dilaksanakan di lokasi pembangunan gedung gereja mengungkapkan bahwa laporan penggunaan dana sudah dibuat oleh panitia dan laporan itu sudah diserahkan kepadanya dan dewan Paroki pada tanggal 02 April 2020 lalu.

“Tanggal 2 April lalu panitia pembangunan sudah serahkan laporan penggunaan dana kepada saya selaku pastor dan dewan paroki yang lain untuk dikoreksi terlebih dahulu sebelum diserahkan ataupun diumumkan kepada umat,” katanya, Selasa (21/04).

Kemudian kata pastor, setelah dikoreksi, pada tanggal 09 April dirinya dirinya menyampaikan ke grup Whatsapp Dewan Paroki bahwa laporan tesebut sudah diperiksa dan meminta agar laporan tersebut dapat sesegera mungkin dibagikan kepada umat di Kombas (Komunitas Basis) umat.

Pastor Broery juga mengungkapkan mengapa laporan itu belum diserahkan kepada umat karena, pada bulan April 2020 ini umat Katolik dihadapkan dengan perayaan Paskah sehingga penyerahan laporan tersebut ditunda karena adanya kesibukan seluruh dewan paroki menyambut perayaan tersebut. Sehingga laporan tersebut belum sempat diumumkan ataupun diserahkan kepada umat melalui Kombas.

“Nah, karena kesibukan Paskah kemarin yang mulai dari tanggal 05 April memasuki Pekan Suci, sehingga laporan ini kita lengkapi lagi. Dan setelah diperiksa bersama dengan bendahara Paroki semua laporan itu sudah terangkum disini. Setelah rapat bersama dewan paroki tadi, sudah kita putuskan bahwa laporan ini akan diperbanyak dan dibagikan kepada umat melalui ketua-ketua kombas. Itu mekanisme yang ada di paroki ini,” ungkapnya.

Kemudian soal mekanise dan system pembangunan gereja yang menurut Paul Leo tidak benar menurut pastor paroki, semua mekanisme yang dilakukan dalam pembangunan gereja sudah dilalui oleh pihaknya.

“Mekanismenya itu panitia melaporkan kepada dewan, dewan memeriksa semua segala macamnya hingga selesai lalu dilanjutkan kepada umat dan nanti Pak Paul bisa tanya langsung kepada ketua Kombasnya. Hal berikut mengenai laporan ke pihak kepolisian kami juga sudah ketemu dengan Kapolres dan Kasat yang memeriksa laporan pak Paul ini,” tuturnya,

Dikatakan kenapa pihaknya langsung bertemu Kapolres karena pihaknya sedang membangun dan pembangunan itu sedang dikerjakan, jikalau ada indikasi penyalahgunaan dana menurutnya hal itu bisa diperiksa setelah pembangunan ini selesai atau berhenti dalam perjalanan.

“Itu baru diperiksa dan diaudit segala keuangannya dan misalnya ditemukan ada indikasi atau tanda-tanda penyalahgunaan dana itu barulah dilaporkan ke Polisi. Inikan pembangunan sementara berjalan berapapun rupiah yang kami keluarkan itu resiko dari pembangunan itu. Jadi memang waktu itu kami ketemu kapolres dan kasat disana,” ujarnya.

Mengenai anggaran senilai Rp. 43 Miliar pastor menjelaskan bahwa itu adalah rencana anggaran yang digunakan untuk membangun gedung gereja yang baru. Dan secara rillnya dana tersebut memang belum ada karena itu baru dalam rencana penggunaan angarannya.

“Saya mau sampaikan begini, kami membangun ini bukan karena uang Rp. 43 Miliar itu sudah ada baru kami membangun, pak Paul itu juga tau persis bagaimana kondisi di Paroki ini, jadi uang uang terkumpul itu berapa itu yang di pakai untuk bekerja umat juga tetap membantu setiap hari minggu melalui kolekte dan sumbangan untuk menyelesaikan gedung ini, jadi tidak ada penyelewengan dana seperti yang pak Paul sebutkan” tuturnya,

Dia juga mengklarifikasi bahwa pembangunan gereja ini sudah dimulai sejak tanggal 20 Mei 2018 bukanlah bulan Mei tahun 2019. “Jadi pembangunan gereja ini bukan baru dilaksanakan satu tahun terakhir tapi sudah berjalan 2 tahun pada bulan Mei besok” pungkasnya.

 Ditempat yang sama, Ketua Dewan Harian Paroki Sang Penebus Sentani, Carlos Matuan menambahkan, hal yang dipersoalkan oleh Paul Leo adalah soal keuangan sehingga Matuan menegaskan bahwa pihaknya selaku panitia telah melaporkan hal ini secara lisan pada tanggal 31 Desember 2019.

Dikatakannya, laporan secara tertulis dan terperinci sudah selesai dibuat dan akan segera diserahkan kepada umat melalui Kombas.

“Kami sebagai warga Negara yang baik saat Pak Paul melaporkan, kami tetap hadir jika dipanggil oleh pihak kepolisian dan kami sudah melaksanakan kewajiban itu. Kami beberapa sudah dipanggil untuk dimintai keterangan dan sudah kami klarifikasi juga hari ini juga ada kami mendapat panggilan sehingga Ketua I dan Ketua II tidak bisa hadir untuk memberikan klarifikasi karena sedang berada di Polres,” tuturnya.

Matuan juga menuturkan keliru jika Paul Leo mengatakan pihaknya tidak kooperatif saat dipanggil oleh pihak berwajib untuk dimintai keterangan soal dugaan penyelewengan dana yang dilaporkan oleh yang bersangkutan ke pihak Kepolisian.

“Kalau laporan pak Paul ini bukan baru saat ini saja. Karena sejak awal kami berencana mendirikan gereja ini pak Paul sudah protes. Sementara beliau sendiri adalah mantan Ketua Dewan Paroki yang menjabat selama 2 periode,” tuturnya.

Diungkapkannya didalam system gereja Katolik jika ingin melaporkan sesuatu itu ada aturan dan Hierarkinya, sehingga laporan itu tidak disampaikan ke orang-perorang.

“Jadi tidak bisa kalau kita langsung kirim laporan keuangan ini kita kirim langsung ke beliau yang benar adalah kita kirim ke umat melalui Kombas dan beliau bisa mendapatkannya nanti di Kombas” ungkapnya.

“Jika beliau masih berdomisili di Sentani, karena belakangan kami tau beliau sudah tidak berdomisili di Sentani. Artinya kalau sudah tidak berdomisili di Sentani berarti beliau bukan lagi warga Paroki kami disini” tambahnya.

Senada dengan Pastor Broery, matuan juga mengungkapkan alasanya mengapa pihaknya bertemu langsung dengan Kapolres Jayapura, AKBP. Victor Dean Mackbon karena proses pengerjaannya sedang berjalan dan pastinya nanti akan menyita waktu dan proses pengerjaannya.

Sementara itu Ketua III Panitia Pembangunan Gereja Katoli Sang Penebus Sentani, Herlad Jusuf Berhitu menjelaskan pembanguan ini Swadaya dari umat Katolik yang berada di Sentani dan sekitarnya,.

“Karena Swadaya ini berarti kita menggunakan sumbangan dari umat. Jadi uang yang kita kumpulkan itu yang kita gunakan untuk melakukan pembangunan” tuturnya.

Diungkapkannya, untuk mekanisme pelaporan dana yang digunakan untuk pembangunan gereja ini telah disepakati bersama akan diumumkan kepada umat setiap tahun.

Namun untuk pelaporan kepada Kombas tetap dilaksanakan secara berkala yakni setiap 3 bulan sekali soal progress apa saja yang sudah dilakukan dalam pembangunan gedung gereja yang baru.

“Persoalannya sekarang adalah kalau beliau sendiri tidak bekecimpung di Kombas itu yang susah. Misalnya kalau kita mau kasih laporan ke beliau beliau itu siapa dan kapasitasnya apa? Sehingga kami mengharapkan beliau jika ingin mengetahui laporan pembangunan ini bisa datang ke Kombas,” pintanya.

“Kami juga mempertanyakan soal domisilinya jika ingin berbicara soal pembangunan gereja ini. Karena sudah sekian tahun dia sudah tidak beribadah di Sentani sini tapi beribadah di Waena sana”.

“Dan informasi terakhir dia sudah keluar dari Kombas tapi kita tidak bisa memastikan informasi itu. Kalau memang beliau sudah tidak berdomisili di Sentani, kami menganggap Beliau sudah tidak punya hak untuk menanyakan itu lagi. Dan saya merasa ini tidak ada permasalahn yang serius” tambahnya.

Hanya saja menurut Herald, Paul Leo saja yang berusaha dengan tujuan tertentu untuk mengganggu proses pembangunan ini.

Ditanyai wartawan apakah pihak Paroki pernah bertemu dengan Paul Leo untuk meyelesaikan masalah ini secara Internal, Carlos Matuan mengungkapkan bahwa pihaknya sudah beberapa kali melakukan pertemuan dengan yang bersangkutan namun dalam pertemuan tersebut masalah ini tidak pernah selesai.

“Kalau mau dibilang bosan, kita sudah bosan kalau melakukan pertemuan dengan pak Paul. Kita sering ketemu berkali-kali dan itu tidak pernah ada penyelesaiannya, jadi selama ini beliau seakan selalu berusaha untuk mencari masalah sehingga kalau dari kita ini sebenarnya sudah bosan, jadi pertemuan kami ini semenjak proses pembangunan ini belum dimulai itu kita sudah lakukan diskus dengan beliau mulai dari gambar,” ungkapnya.

Soal gambar Mantuan menjelaskan, sewaktu Paul Leo Menjabat sebagai ketua Dewan Paroki, gambar gedung gereja baru ini sudah ada dan semenjak itu pula pihaknya sudah melakukan pertemuan dengan Paul Leo.

Protes yang dilakukan oleh Paul Leo soal pembangunan gereja ini menurutnya, bukan baru kali ini saja melainkan sudah berkali-kali hingga berujung pada laporan Polisi yang dibuat olehnya.

“Tidak, kami tidak menggunakan gambarnya, kami gunakan gambar baru. Tapi beliau ingin agar pembangunan gedung gereja ini menggunakan gambar yang dibuat beliau” kata Carlos.

Carlos juga mangatakan bahwa setiap kepengurusan itu ada masanya, sehingga Paul Leo tidak bisa memaksakan kehendaknya agar pembangunan gereja ini menggunakan gambar yang ia buat.

Ditanyai soal RAB dan Masterplan dari pembangunan gedung gereja ini Herlad mengatakan bahwa hal itu sudah dilakukan pihaknya, bahkan konsultan pembangunan sudah datang dan ditunjukan pada konsultan.

“Tapi itu ya alasannya dia kalau RAB dan Masteplan itu tidak ada. Soal gambar biar saya jelaskan, waktu itu dia Ketua Dewan dan saya Wakil Ketua jadi gambar yang kita laksanakan itu panitianya bukan panitia independen yang ada saat ini dulu dia masukan dalam seksi pembangunan nah waktu itu seksi itu yang membuat gambar itu, tapi gambar itu tidak disetujui oleh Uskup Jayapura” ungkapnya.

Lanjut Herald pada saat pergantian Ketua DPP (Dewan Pimpinan Paroki) lalu pihaknya mempertanyakan gambar itu karena gambarnya tidak ada di secretariat Paroki.

“Dan ternyata Pak Paul bawa gambar itu kita tanya dia putar sana-sin dan segala macam ya sudah akhirnya kita rapat dan putuskan dengan semua pihak kita putuskan untuk membuat gambar baru setelah gambar ini selesai kita konsultasikan ke uksup dan disetujui. Pimpinan tertingg kita yang paling tiinggi itu Uskup kalau pembangunan ini Uskup tidak setuju tidak mungkin kita lakukan, karena ada persetujuan dari usku maka pembangunan ini kita lakukan” ucap Herald.

Dikonfirmasi apakah benar pembangunan gedung gereja baru ini dihitung dengan hitungan proyek pemerintah, Herald mengatakan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan pembangunan harga pasarnya sudah ditetapkan.

“Karena Pemda telah mengeluarkan harga standard dan kosultan itu menhitung dengan standar harga yang berlaku bukan menyamakan dengan hitungan pemerintah. Kalau mau ikuti proyek pemerintah, kita mau dapat estimasi harganya dari mana karena kita juga harus punya target berapa sih yang harus kita keluarkan untuk pembangunan ini. Kan tidak mungkin kita mau pakai standar yang lain. Kita kan menggunakan standar harga yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai acuan untuk melaksanakan pembangunan ini. Contoh harga besi berapa harga semen sekarang berapa itu yang menjadi dasar perhitungan sehingga ada angka Rp. 43 Miliar itu” pungkasnya. (yurie)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here