DPR Papua Minta Polisi dan Jaksa usut Proyek Mangkrak Pabrik Petatas Disperindagkop

JAYAPURA, Reportasepapua.com – Pabrik petatas yang dibangun oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Papua yang berada di Arso 4 Kabupaten Keerom, yang pengerjaannya dilakukan sejak 2018 lalu, namun hingga hari ini belum beroperasi. Padahal anggaran untuk pembangunan pabrik petatas itu sudah menelan anggaran sekitar Rp.7 milliar.

Menanggapi hal itu, Anggota Komisi II DPR Papua bidang Perekonomian, Mustakim HR mengatakan, jika pembangunan pabrik petatas itu menuai banyak kendala.

“Jadi terkait dengan pabrik petatas ini, waktu kami berjuang 2017 untuk bangun pabrik itu kan mesinnya sudah ada beberapa tahun lalu. Namun rupanya untuk membangun pabrik itu banyak kendala-kendala,” kata Mustakim HR via ponselnya, Rabu (8/7/2020).

Lanjut dikatakan, memang rencana pembangunan pabrik petatas di Kabupaten Keerom dimulai pada 2016. Namun, pada saat itu bupati Keerom tidak menyetujui pembangunan pabrik itu di Arso 4 dekat Kali Kabur.

“Nah setelah itu Pembangunan Pabrik Petatas itu vakum. Dan 2017 kami angkat lagi, sehingga 2018 terealisasi dana Rp 7 miliar untuk pembangunan pabrik petatas itu,” ungkapnya.

Padahal kata Mustakim, anggaran Rp 7 miliar itu diperuntukan untuk membangun dua unit gedung, yakni gedung mesin dan penampungan bahan baku.

“Saat itu dinas Perindag yang ngotot bangun sendiri, karena memang dari awal ini usulnya dinas tersebut sehingga kelanjutan pembangunan dilakukan dinas itu sendiri, yang seharusnya dilakukan oleh dinas terkait,” jelasnya.

Hanya saja kata Mustakim, dana Rp 7 miliar yang diperuntukan untuk membangun dua gedung tersebut, malah tidak terpakai semuanya. Sehingga sisa anggaran tersebut dikembalikan ke kas daerah.

“Sesungguhnya dinas terkait harus mengajukan penambahan anggaran di 2019, namun tidak diajukan. Sehingga pembangunan pabrik petatas di Arso 4 terkesan terbengkalai tidak ada kelanjutan,” bebernya.

Namun kata setelah pihaknya mengecek langsung pembangunan pabrik petatas itu, ternyata dinas terkait tidak melakukan apa yang Komisi II DPR Papua maksud.

“Jadi mereka bangun satu bangunan berteduh mesin kemudian rumah jaga. Padahal rumah jaga belum dibutuhkan karena yang dibutuhkan itu adalah rumah mesin dan gedung menampung bahan baku. Karena kalau ada gedung penampung kita bisa memanfaatkan menampung perlengkapan sebelum beroperasi,” terangnya.

Tak hanya itu lanjut Mustakim, kondisi bangunan juga jauh dari layak. “Untuk rumah mesin saya lihat seperti anggar pesawat kecil,” katanya.
Oleh karena, pihaknya berkesimpulan bahwa pembangunan pabrik petatas di Arso 4 Kabupaten Keerom hanya asal-asalan.

“Jadi ini terkesan, yang penting melepaskan tanggungjawab tetapi tidak bertanggungjawab,” tandas Politisi Partai Demokrat itu.

Mustakim mengungkapkan, jika pihaknya tetap berkeinginan untuk mengangkat kembali pembangunan pabrik petatas itu. Apalagi masyarakat sudah menanti-nanti hadirnya pabrik petatas itu.

Bahkan tandas Mustakim, kedepan pihaknya akan mengangkat kembali pembangunan pabrik petatas itu.

“Tetapi sebelum dilanjutkan kami sudah perintahkan Dinas Perindag untuk mengindentifikasi kondisi mesin, serta kelayakan gedung dan sertifikat tanah,” tandasnya.

Mustakim menambahlkan, kalau katakan tiga hal ini masih layak kita akan lanjut. Tapi kalau masih ada masalah berarti dilakukan pengkajian ulang.

“Akan tetapi niat kami tetap membangun pabrik petatas di Tanah Papua,” tekannya. (Tiara)

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

22,041FansSuka
2,836PengikutMengikuti
17,900PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles