JAYAPURA, Reportasepapua.com – PT Freeport Indonesia (PTFI) sebagai salah satu perusahaan tambang mineral tembaga, perak dan emas terlihat semakin memperkuat relasinya dengan berbagai media sesuai tuntutan zaman dan tantangan teknologi moderen demi kelancaran, keamanan dan kenyamanan serta keberhasilannya di bidang pengelolaan pertambangan di Papua.

Yang mana, dalam mengelola tambang di Papua dikenal dengan penuh tantangan di berbagai bidang, seperti kondisi geografi dan cuaca yang sering tidak bersahabat dengan manusia, sosio-budaya, politik dan tantangan keamanan.
Pendapat itu disampaikan wartawan senior dan mantan staf khusus Gubernur Papua Bidang Media periode 2006-2011, Ir. Mathias Refra di Jayapura, Sabtu (6/6) yang mencermati semakin gencarnya Freeport menata kinerja kehumasan dan meningkatkan relasi kemitraan antara perusahaan ini dengan media cetak, televisi, radio dan media online di tiga wilayah yaitu Jakarta, Timika dan Jayapura.

“Sejak beroperasinya Freeport di Tanah Papua tahun 1967, perusahaan ini tidak henti-hentinya memberdayakan bidang Kehumasnya untuk menyebarluaskan informasi, program kerja, membangun kemitraan dengan masyarakat, pemerintah dan perguruan tinggi, membangun dan memperkuat citra perusahaan melalui kerjasama kemitraan dengan kalangan media,” katanya.

Mantan wartawan Timika Pos tahun 1990-an yang bermarkas di Timika, ibukota Kabupaten Mimika itu mengatakan, sejak dulu kerjasama Freeport dengan media digalakkan mulai dari wilayah operasi pertambangan di Kabupaten Mimika, menerobos hingga Jayapura selaku ibukota Provinsi Papua dan bermuara di Jakarta sebagai ibukota Negara Republik Indonesia.

Dari tahun ke tahun, dengan segala keterbatasan yang ada, Freeport membangun kerjasama dengan media-media. Tidak semua media bekerjasama bisnis dengan Freeport karena perusahaan ini memiliki kriteria kerjasama yang cukup ketat.

Namun, terlepas dari kerjasama institusional, jalinan relasi pertemanan dan kemitraan antara Freeport dengan semua wartawan, baik secara pribadi maupun melalui organisasi dan paguyuban wartawan sudah merupakan sebuah tradisi dan wajib hukumnya.

“Relasi kemitaraan dengan media dan pribadi setiap wartawan dan paguyubannya selalu dikelola secara baik untuk kebaikan bersama dan kesejahteraan serta kedamaian hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pertemanan dibangun bukan diukur dengan uang atau materi namun atas dasar kesamaan cita-cita yakni terciptanya kehidupan bersama yang harmonis. Apalagi, manusia membutuhkan sahabat dalam hidupnya,” kata Mahias.

Relasi pertemanan yang dibangun bersama tidak lantas mengharuskan media atau wartawan merasa tabu untuk memberikan koreksi kepada perusahaan ini namun koreksi yang diberikan tentu saja bersifat konstruktif bukan destruktif, beretika, bertanggungjawab dan berkeadilan dengan tetap menjunjung tinggi budaya ketimuran. Malahan, koreksi yang diberikan selalu menjadi bahan evaluasi bagi perusahaan tambang mineral ini.

“Sebagai wartawan yang hidup dan bekerja di Tanah Papua, saya mengamati bahwa Freeport terus menjalin relasi dan kerjasama cukup selektif dengan media dalam hal pemasangan iklan, pemuatan advertorial, penyiaran berita terkait program dan berbagai kegiatan perusahaan yang patut diketahui masyarakat luas sekaligus membentuk opini publik,” katanya.

Namun, lanjutnya, seiring dengan perkembangan zaman, dimana masyarakat semakin akrab dengan berbagai produk teknologi informasi yang memungkinkan semua orang menyampaikan dan sekaligus membentuk opini publik atas nama demokrasi dan kebebasan berekspresi maka Freeport terlihat semakin jeli dan piawai dalam membangun kerjasama dengan berbagai media.

“Di tengah demokrasi yang ditandai kebebasan berekspresi, kemerdekaan pers, dan keterbukaan informasi, terdapat satu titik temu dimana ketika masyarakat membutuhkan kejelasan atau bahkan kebenaran sebuah informasi tentang Freeport. Pada titik inilah, Freeport dituntut menunjukkan kinerjanya yaitu kemampuan kerja dan prestasi yang dapat diperlihatkan secara kasat mata,” katanya.

Dalam rangka kinerja itulah, maka pada saat ini, ada satu fenomena terbaru yakni Freeport menjalin relasi kemitraan tidak hanya dengan media-media pada umumnya seperti yang dilakukan selama ini, tetapi mulai secara spesifik dengan media-media yang “dibidani” atau dikelola oleh para “alumni” Freeport yaitu mereka yang dulu pernah bekerja sebagai karyawan aktif di perusahaan itu tetapi kini sudah purnabakti. Mereka yang purnabakti atau dapat disebut “alumni” ini diketahui memiliki atau mengelola media mainstream dan media sosial.

“Peluang ini benar-benar ditangkap oleh Freeport karena para alumni itu walaupun secara kedinasan sudah berada di luar struktur organisasi perusahaan lantaran sudah purnabakti namun mereka masih memiliki relasi emosional dan psikologis dengan tempat kerjanya dulu dan rekan-rekannya yang masih aktif bekerja di perusahaan itu,” katanya.

Selama masih menjadi karyawan aktif, mereka tentu tidak mungkin mendirikan atau mengelola sebuah institusi media dan Perusahaan pun tidak akan mungkin mendirikan lembaga media sendiri seperti media cetak Harian Cenderawasih Pos atau media online Wartaplus.com – selain mendirikan media internal perusahaan untuk “dikonsumsi” kalangan internal perusahan yakni manajemen dan karyawannya.

Namun, setelah menjadi purna bakti, tentu saja para alumni ini punya hak dan kebebasan membuka usahanya di bidang media dan dengan leluasa berkecimpung di dunia media mainstream dan media sosial yang memiliki legalitas hukum seperti harus berada di bawah payung Perusahaan (PT) dengan akta notarisnya yang sah serta memiliki legalitas operasional dari Kementerian Hukum dan HAM serta resmi terdaftar di Dewan Pers.
Kini, Freeport tidak hanya membangun kerjasama kemitraan dengan media-media yang dikelola oleh personil-personil yang belum (pernah) mengenal, malahan tidak pernah bekerja di lingkungan perusahaan itu, tetapi juga secara khusus Freeport bekerjasama intens dengan pemilik atau pengelola media yang adalah alumninya yakni mereka yang pernah (lama) bekerja sebagai karyawan aktif di perusahaan itu.

Relasi emosional dan psikologis antara Freeport dengan para alumni pengelola media ini tentu saja ikut mempengaruhi isi dan cakrawala berita tulis dan berita foto yang disiarkan media tersebut tentang Freeporti.

Pada satu pihak, pengelola media yang alumni Freeport itu, selain sudah benar-benar memahami segala “isi-perutnya” Freeport, juga pada pihak lain media ini akan sangat mudah menghasilkan tulisan atau berita-berita tentang Freeport secara benar dan utuh sesuai pengetahuan dan pemahaman tentang Freeport yang dimiliki oleh alumni itu.

Selain itu, apabila Freeport mendapatkan berita atau informasi yang dinilai tidak benar dan tidak patut yang dapat merusak citra perusahaan dan berdampak buruk pada munculnya gejolak sosial dalam masyarakat, maka para alumni ini akan secara dini melakukan penyaringan atau penyuntingan tanpa sedikitpun melakukan pembohongan publik agar media yang dikelolanya itu benar-benar kredibel di mata dan hati publik.
Begitu pula, selain alumni itu telah memiliki pengetahuan yang mumpuni tentang “isi-perutnya” perusahaan itu, alumni pengelola media ini juga telah memiliki pemahaman yang cukup komprehensif tentang sosial-budaya dan psikologi masyarakat dan wilayah Papua. Hal ini tentu akan sangat memudahkan media ini dalam menyiarkan berita-berita tentang Freeport karena lokasi penambangan Freeport itu berada di Tanah Papua.

Di tempat terpisah, salah seorang wartawan senior dan pemimpin redaksi salah satu media mainstream di Surabaya, Leonard berpendapat, pada saat ini Freeport terlihat sangat piawai mengelola informasi yang berkembang dalam masyarakat terkait operasi perusahaan ini dan berbagai pemberitaan media tentang Freeport lantaran perusahaan tambang ini terbukti memiliki pola kerja yang sangat rapih, profesional dan mumpuni.
Terdapat tiga wilayah utama yang merupakan “gawang informasi” yang harus dijaga dan dirawat secara profesional yaitu Jakarta sebagai ibukota Negara Indonesia, pusat perpolitikan nasional dan internasional, Timika sebagai ibukota Kabupaten Mimika – wilayah operasi tambang dan Jayapura sebagai ibukota Provinsi Papua sekaligus pusat politik, ekonomi, sosial dan budaya Tanah Papua.

Freeport karena sudah lama berkiprah di Tanah Papua dan Indonesia pada umumnya, maka perusahaan ini memiliki kemampuan deteksi dini terkait isu-isu sosial-budaya, politik, Kamtibmas dan Hankamnas di tiga kota tersebut sehingga sejak dini pula mereka mengelola isu tersebut secara profesional. Dengan demikian, apabila isu tersebut akhirnya muncul ke publik khususnya melalui media, maka mereka sendiri sudah memiliki strategi jitu untuk menghadapinya, paling kurang di tiga wilayah “gawang” itu.

“Gawang harus dijaga ketat agar tidak jebol,” katanya.

Selain kemampuan melakukan deteksi dini di tiga gawang itu, Freeport dinilai berhasil membangun jejaring yang solid dengan berbagai “orang kunci” yang memiliki kapasitas, kapabilitas dan kredibilitas yang mumpuni di tiga kota utama yaitu Timika, Jayapura dan Jakarta sehingga melalui “orang kunci” itulah, Freeport dapat bersama-sama mengatasi permasalahan pelik yang dihadapi.

“Deteksi dini atas isu-isu yang bermunculan dapat dilakukan secara cepat dan tepat karena Freeport memiliki jejaring yang solid, yang mereka rawat secara profesional dalam rentang waktu yang sangat lama di berbagi strata dalam masyarakat di tiga kota tersbut. Inilah yang membuat Freeport semakin kuat, tabah dan sukses menghadapi tantangan zaman khususnya tantangan akibat perkembangan teknologi informasi yang semakin mengglobal,” katanya.(redaksi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here