Gugurnya Dua Prajurit TNI, Fraksi Demokrat DPR Papua Turut Berduka

JAYAPURA, REPORTASEPAPUA.COM – Baru-baru ini Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) kembali beraksi dengan menembak dua prajurit TNI dari Yonif R 400/BR. Kedua prajurit TNI tersebut bernama Pratu Roy Vebrianto dan Pratu Dedi Hamdani gugur saat menjalankan tugas di Kampung Tigi, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya. 

Terkait penembakan dua prajurit TNI itu, Fraksi Demokrat DPR Papua menyatakan turut berduka cita atas gugurnya dua prajurit TNI tersebut.

Penasehat Fraksi Demokrat, DR. Yunus Wonda, SH HM mengatakan, atas nama Fraksi Demokrat kami turut berduka atas meninggalnya dua prajurit di Intan Jaya.

“Kekerasan tidak akan selesaikan masalah Papua. Korban dari TNI-Polri, masyarakat sipil, TPN-OPM akan terus terjadi di atas tanah ini. Ditambah lagi selama ini kita masih terus mengedepankan kekerasan, maka itu terus akan terjadi,” kata Yunus Wonda melalui sambungan teleponnya kepada Reportase Papua, Sabtu (23/1).

Untuk itu lanjut Yunus Wonda, pihaknya mau menyampaikan kepada semua pihak, baik TPN/OPM dan anggota TNI Polri yang bertugas di sana, semua harus bisa menahan diri.

“Harus mengedepankan pendekatan humanis agar tidak terjadi kontak senjata dan mengakibatkan daerah itu tidak aman. Karena masyarakat akan merasa tidak aman dan tidak nyaman jika peristiwa itu masih saja terus terjadi,” ujar Wonda.

Bahkan kata Yunus Wonda, masyarakat semakin takut, semakin merasa tidak bebas di tanahnya sendiri. Tidak bisa berkebun sebagai mata pencaharian mereka sehari hari. Dan hidup di hutan dengan alam sudah tidak bisa lagi.

“Jadi ini semua akibat ketika kita melakukan cara cara pendekatan kekerasan di Papua dampak hari ini terjadi. Jatuh korban dari pihak TNI Polri, masyarakat sipil, TPN/OPM,” tandasnya.

Yunus Wonda menegaskan, saatnya pemerintah pusat mencari solusi terbaik supaya tidak ada lagi pertumpahan darah di Papua.

“Tidak ada lagi korban, tidak ada lagi anak anak yatim piatu dan ibu ibu janda,” imbuhnya.

Mestinya kata Politikus Partai berlambang Mercy itu, ada cara yang diambil untuk bagaimana selesaikan masalah Papua dan harus meninggalkan pendekatan militerisme dengan melihat masalah Papua sesungguhnya.

Sehingga ungkapnya, apapun nanti yang dibahas dalam pembicaraan itu mesti ada ruang untuk itu. Kalau tidak ada ruang untuk bicara, kekerasan ini akan terus terjadi dan korban makin bertambah.

“Jadi berhenti kekerasan karena kekerasan tidak akan pernah selesaikan masalah Papua mesti mencari format tepat untuk membangun Papua agar tidak selalu ada korban jiwa,” tekannya.(tiara)

 

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

22,041FansSuka
2,817PengikutMengikuti
17,800PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles