Ini Kata Kepala Suku Witaya Soal Rencana Pembangunan Pabrik Semen Di Jayawijaya

JAYAWIJAYA, Reportasepapua.com – Dukungan DPR Provinsi Papua terkait rencana Pemerintah Provinsi Papua mendirikan pabrik semen di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, mulai menuai perhatian dari warga.

Kepala Suku Witawaya, Kabupaten Jayawijaya, Primus Wagai menegaskan, rencana apapun yang akan dilakukan seharusnya terlebih dahulu datang, dan pamit kepada pemilik hak ulayat atau masyarakat.

Sehingga, selaku pemegang hak ulayat tanah, pihaknya mempertanyakan rencana tersebut, karena yang ditakuti masyarakat ini masalah limbahnya.

Sebab, apabila rencana ini direalisasikan, sebelumnya perlu dilakukan studi kelayakan lebih dulu.

Ia menyatakan bahwa hingga saat ini masih belum ada koordinasi dengan masyarakat maupun Pemerintah Daerah mengenai masalah ini.

“Kami inginkan itu harus ada koordinasi dulu dengan kami yang memiliki hak ulayat, di Wamena ada yang namanya Pemerintah Daerah itu Bupati dan Wakil Bupati, sehingga harus ada koordinasi dulu kalau hanya sebatas wacana kami juga tidak setuju,” ungkapnya jumat (19/6)saat ditemui di Gedung Wenehule Huby Wamena.

Menurutnya, wacana untuk membuka pabrik semen tersebut sudah ada sejak masa kepemimpinan Bupati David Huby (alm), dan memang mendapat perlawanan yang keras dari masyarakat, sehingga perlu dilakukan studi kelayakan lebih dulu, dan sampai saat ini belum pernah dilakukan, sehingga mungkin belum bisa dilakukan.

“Kami inginkan, agar harus ada studi kelayakan lebih dulu, kalau tidak, mungkin kita selaku pemilik hak ulayat tidak akan memberikan ijin, untuk rencana pembangunan pabrik semen,” jelasnya.

Ditempat yang sama Kepala Distrik Pisugi Agustinus Kosay mengatakan, sebaiknya DPRP jangan langsung menanggapi jika ada masukan dari tokoh intelektual, namun seharusnya lebih dulu turun ke masyarakat, agar bisa untuk menanyakan mereka apakah program seperti ini mau diterima atau tidak, karena keberadaan masyarakat mereka tidak tahu.

“kalau apa yang menjadi wacana DPRD, untuk membangun pabrik semen itu masyarakat tidak tahu, dan hampir menolak, alangkah baiknya turun ke masyarakat adat, untuk menanyakan mau diterima atau tidak, sehingga bisa diteruskan keatas,” ungkapnya.

Kalau masalah ini dibicarakan ditingkat atas terus, maka kemungkinan besar masyarakat bisa menolak, dampak- dampaknya masyarakat yang akan mengalami, contohnya tanah di Jayawijaya terkenal subur dengan tanaman sayur-mayur, jangan sampai perkebunan masyarakat yang nanti bisa terkena dampak, apabila ada pabrik semen.

Orang tua kami menjaga kesuburan tanah di Lembah Baliem ini dengan pengorbanan, dengan ritual pengorbanan ternak babi ini selalu dilakukan, sehingga harus perlu melihat pendapat masyarakat jangan langsung dari atas.

“lokasi yang akan dibangun pabrik semen itu merupakan lokasi perkebunan masyarakat yang terbentang dipinggiran kali baliem, dan kali aki termasuk tanah tempat yang kering, kalau dibangun disitu masyarakat mau cari makan dimana,” pungkasnya.(redaksi reportase)

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

22,041FansSuka
2,826PengikutMengikuti
17,900PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles