JAYAPURA, Reportasepapua.com – Polda Papua mengungkap praktek penjualan suplemen Purtier Placenta yang diduga mengakibatkan kerugian pada konsumennya. Yaitu Seorang dokter ternama di Papua Jhon Manansang yang kini  tengah menjalani pemeriksaan sebagai saksi atas kasus tersebut.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Ahmad Mustofa Kamal saat melakukan rilis kepada media di Mapolda Papua Senin sore kemarin (03/02) mengimbau kepada masyarakat agar tidak menafsirkan Putrier Placenta sebagai obat yang sah diperjual belikan di Papua Karena Balai POM sampai sekarang bmengeluarkan ijin edar suplemen tersebut secara legal.

“Sebenarnya itu adalah suplemen makanan yang notabene tidak bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Sejumlah saksi tidak merasakan manfaat positif setelah mengkonsumsi obat itu. Dari ketidakpuasan warga itulah kemudian diketahui legalitas obat itu tidak ada,” Kata Kamal.

Sementara itu Kanit Subdit Indagsi Reskrimsus Polda Papua, AKP Komang Yustrio Wirahadi Kusuma mengatakan, dr. Jhon sepanjang menjual Obat itu  tidak mengantongi surat ijin edar dari pihak BPOM,  Suplemen itu pun diklaim sebagai obat antiretroviral (ARV) atau obat pengganti bagi pengidap penyakit Aids.

“Hasil pemeriksaan sementara, JM mengaku telah menjual suplemen tersebut kepada pasiennya selama dua tahun terakhir. Satu kotak Purtier Placenta dengan isi 60 butir suplemen dihargai Rp 6 juta. Balai POM pun telah menyampaikan ke pihak kepolisian bahwa JM tak mengantongi ijin edar obat itu, Kenapa ini kami tindak lanjuti , nah Karena kami khawatir ada pemahaman yang berbeda di masyarakat. Awal peredaran obat ini diperkenalkan dokter Manangsang sebagai obat ARV di Papua. (Purtier sendiri) Merupakan obat pengganti Aids yang sudah disahkan oleh WHO,” Ucap Komang.

Mencuatnya kasus ini setelah banyak warga mengeluh lantaran mengkonsumsi Purtier Placenta. Mereka mengadukan keluhannya kepada Balai POM  dan juga ke Polda Papua. Bukannya lebih baik, malah sejumlah warga yang mengkonsumsi suplemen itu mengaku kondisi kesehatannya semakin memburuk. (Redaksi Reportase)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here