Kadis : OTG yang Karantina Mandiri Jangan Kepala Batu

0
6

JAYAPURA, Reportasepapua.com – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Dr. Robby Kayame, SKM.M.Kes meminta orang Tanpa Gelaja yang dirawat Secara Mandiri Dirumah Agar Tidak Kepala Batu atau Mengabaikan Protokol Kesehatan.

“Tetapi itu atas izin keluarga dan pasien itu, apa dia bisa isolasi mandiri di rumah dengan SOP. Namun jika pasien dan keluarganya tidak bersedia, maka kami akan lakukan isolasi atau karantina terpusat dan penanganan yang disiapkan pemerintah seperti di Hotel Sahid. Sebab rumah sakit kita di wilayah Kota Jayapura sudah penuh dengan angka pasien kita yang masih terus naik,” kata Robby kepada wartawan Senin (29/06/2020).

Menurut Robby, berdasarkan hasil pengamatannya, banyak pasien Covid-19 di Papua yang tidak bergejala, umumnya tidak menularkan kepada keluarganya. Hal itu yang membuat pihaknya mendorong opsi penanganan pasien dengan cara isolasi mandiri di rumah.

“Ya kan selama ini ada juga yang sudah dirawat dengan isolasi mandiri di rumah. Mereka senang-senang saja. Tim kesehatan tentu akan intervensi dan pantau mereka selama dua minggu,” katanya.

Mantan Kadinkes Paniai ini menegaskan, penyakit ini bisa sembuh sendiri dengan adanya kekebalan pada tubuh (self limiting disease).Yang penting, pasien menjaga stamina tubuhnya dengan asupan gizi yang baik, istirahat yang cukup, dan pemberian multivitamin.

“Yang dibutuhkan itu pentingnya imunitas tubuh untuk melawan virus corona dan kondisi psikologis yang baik, hindari stress dan jaga suasana hati tetap gembira dan berpikir positif,” katanya.

Robby bersyukur atas angka kesembuhan Covid di Papua yang kini mencapai 50 persen atau 841 orang per 28 Juni 2020. Ia mengapresiasi kinerja petugas medis yang telah bekerja keras membantu penyembuhan ini.

Berdasarkan hasil studi kecil yang dilakukan Dinkes Papua terhadap kelompok pasien Covid yang sembuh di Provinsi Papua, secara khusus di wilayah Kota Jayapura, kata Robby, menunjukkan bahwa pasien yang dirawat di luar rumah sakit, justru lebih cepat sembuh dibandingkan di rumah sakit.

“Karena kalau di rumah sakit mereka merasa tertekan, di-stigma. Kalau di hotel atau lainnya kan mereka rasa enjoy. Jadi kita prioritas rumah sakit itu benar-benar untuk melayani pasien Covid yang sedang atau berat, apalagi yang dengan penyakit penyerta,” tegasnya.

Robby memahami bahwa tingginya stigma masyarakat terhadap Covid di tengah masyarakat adalah hal wajar. Sebagaimana masyarakat dahulu kala takut terhadap penyakit lain seperti TBC, kusta dan HIV-AIDS.

“Tetapi dengan seiring waktu, kami minta masyarakat juga bisa memahami edukasi dan sosialisasi yang dilakukan pemerintah selama ini bahwa yang paling dibutuhkan adalah kedisiplinan mematuhi protokol kesehatan sebagaimana 6 hal wajib yang kami keluarkan yaitu wajib tidak berkumpul, jaga jarak, cuci tangan, pakai masker, periksa kesehatan dan wajib berdoa. Jadi bukan menjauhi orangnya dan mengucilkan mereka,” urainya. (Berti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here