JAYAPURA, REPORTASEPAPUA.COM – Menurut Pantauan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua Nilai Tukar Petani (NTP) Nasional pada bulan Mei 2019 adalah 91,92 atau mengalami kenaikan sebesar 0,38%.

” Bulan Mei 2019, NTP di Tanah Papua naik 0,11% dengan indeks sebesar 91,92, kenaikan terjadi dikarenakan perubahan indeks harga diterima petani (1t) lebih besar dari indeks harga dibayar petani (1b) , ” kata Simon Sapari selaku Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Papua di Kota Jayapura, Rabu 19/06/19.

Ia menambahkan bahwa, NTP Provinsi Papua pada bulan Mei 2019 menurut subsektor yaitu, NTP Subsektor Tanaman Pangan berjumlah 85,82% hal tersebut mengalami kenaikan sebesar 1,78%.

Bersamaan dengan itu NTP Subsektor Hortikultural Mei 2019 juga mengalami kenaikan sebesar 0,08% dibandingkan pada bulan sebelumnya (April) hal demikian disebabkan kenaikan angka indeks sebesar 0,78% .

Disisi lain, NTP Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat pada Mei 2019 mengalami penurunan drastis senilai -4,65% dibandingkan pada bulan April, hal itu disebabkan karena penurunan angka indeks sebesar -4,65%  didorong oleh turunnya indeks kelompok perkebunan rakyat sebesar -4,65% .

” Sehubung dengan itu, pada bulan Mei 2019 tercatat Papua mengalami inflasi perdesaan sebesar 0,79% berdasarkan kelompok pengeluarannya mengalami perubahan, ” ujar nya.

Sementara itu dari  Hasil pemantauan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua selama Mei 2019 Kota Jayapura terjadi inflasi atau kenaikan harga barang dan jasa secara umum sebesar 1,13 persen.

Menurut Kepala BPS Papua Simon Sapary, secara umum inflasi yang terjadi di Kota Jayapura pada Mei 2019, didominasi oleh pengaruh kenaikan harga pada kelompok bahan makanan seperti ikan dan sayuran yang memberi andil 0,589 persen terhadap nilai total (inflasi).

Berbeda dengan bulan sebelumnya, pada April 2019 Kota Jayapura mengalami deflasi atau penurunan barang dan jasa secara umum sebesar 0,26 persen.

“Memang diantara dua faktor pemicu terjadinya inflasi adalah kenaikan harga dengan besaran andil masing-masing, yakni angkutan udara sebesar 0,650 persen, bawang putih 0,202 persen, bawang merah 0,179 persen dan ikan kembung 0,079 persen,Kemudian kangkung 0,056 persen, ikan cekalang 0,046 persen, cabai rawat 0,037 persen, sawi hijau 0,018 persen, ikan salam 0,018 persen, tomat sayur 0,016 persen, dan beberapa komoditas dominan lainnya,” jelas dia.

Berbeda untuk Merauke, sambung dia, selama Mei 2019 terjadi deflasi sebesar 0,49 persen. Dimana kondisi tersebut bertolak belakang dibandingkan sebelumnya yang mengalami inflasi 1,20 persen.

Dilain pihak, secara umum deflasi tersebut lebih didominasi oleh pengaruh penurunan harga pada kelompok bahan makanan dengan andil mencapai 0,349 persen terhadap total deflasi Merauke.

“Ya, kalau ditanya faktor pemicu deflasi tentunya karena adanya penurunan harga dengan besaran andil masing-masing, bayam 0,293 persen, kacang panjang 0,271 persen, cabai rawit 0,212 persen, ikan kembung 0,196 persen dan beras 0,190 persen”.

“Sementara tarif pulsa ponsel 0,135 persen, cabai merah 0,099 persen, udang basah 0,073 persen, daging ayam ras 0,072 persen, bahan bakar rumah tangga 0,038 persen serta beberapa komoditas lainnya,” terang Simon.

Diketahui, untuk perkembangan inflasi tahun berjalan Mei 2019 mencapai 1,39 persen. Pencapaian ini menurut perhitungan BPS Papua lebih rendah dan terkendali dibanding Mei 2018 sebesar 2,78 persen.

Selain itu, inflasi year on year (yoy) Mei 2019 sebesar 5,23 persen, relatif lebih tinggi dibanding yoy Mei 2018 sebesar 4,36 persen. Adapun di Merauke inflasi tahun berjalan Mei 2019 mencapai -1,12 persen. (BERTI PAHABOL)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here