JAYAPURA, REPORTASEPAPUA.COM – Badan Pusat Statistik Provinsi Papua mencatat selama November 2019 di Kota Jayapura terjadi inflasi sebesar 0,85 persen. Kondisi tersebut berbeda dengan bulan sebelumnya dimana bulan sebelumnya mengalami deflasi sebesar 0,35 persen.

Kepala BPS Provinsi Papua, Simon Sapari dalam konferensi pers mengatakan, diantara faktor pemicu terjadinya inflasi adalah penurunan harga dengan besaran andil masing-masing yaitu, ikan ekor kuning sebesar 0,701 persen, ikan cakalang sebesar 0,147 persen, cabai rawit sebesar 0,063 persen, cuci kendaraan sebesar 0,034 persen, ikan deho sebesar 0,023 persen, cabai merah sebesar 0,017 persen, ikan kawalina sebesar 0,014 persen daging sapi sebesar 0,013 persen, ikan bakar sebesar 0,009 persen, jeruk nipis sebesar 0,009 persen dan beberapa komoditas lainnya.

“Secara umum inflasi tersebut didominasi oleh pengaruh kenaikan harga pada kelompok bahan makanan yang memberikan andil total sebesar 0,87 persen terhadap total inflasi di Kota Jayapura”. Ucap Simon Sapari, di kantor BPS, Senin (2/12/2019).

Sementara itu, di Merauke selama November 2019 terjadi inflasi sebesar 1,21 persen. Kondisi tersebut berbeda dengan kondisi bulan sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar 0,13 persen. Diantara faktor pemicu terjadinya inflasi adalah kenaikan harga dengan besaran andil masing-masing yaitu, ikan mujair sebesar 0,500 persen, kacang panjang sebesar 0,199 persen, air kemasan sebesar 0,124 persen, bayam sebesar 0,116 persen, udang basah sebesar 0,115 persen, kubis sebesar 0,112 persen, perbaikan ringan kendaraan sebesar 0,060 persen, buncis sebesar 0,052 persen, semangka sebesar 0,029 persen, cat tembok sebesar 0,022 persen dan beberapa komoditas lainnya.

“Secara umum inflasi tersebut didominasi oleh pengaruh penurunan harga pada kelompok bahan makanan dengan andil total mencapai 1,04 persen terhadap total inflasi di Merauke”. Jelasnya.

Lebih lanjut Simon menjelaskan, di Kota Jayapura perkembangan inflasi tahun berjalan November 2019 mencapai -0,06 persen. Pencapaian ini lebih rendah dan terkendali dibandingkan November 2018 yang sebesar 5,00 persen. Selain itu inflasi year on year (yoy) November 2019 sebesar 1,55 persen dan relatif lebih rendah dibandingkan yoy November 2018 yang sebesar 7,40 persen.

Adapun di Merauke, kata Simon, inflasi tahun berjalan November 2019 mencapai -1,50 persen. “Pencapaian berbanding terbalik dibandingkan November 2018 yang sebesar 4,28 persen”. Imbuhnya.

Adapun inflasi year on year (yoy) November 2019 sebesar -0,42 persen dan relatif lebih rendah dibandingkan yoy November 2018 yang sebesar 5,29 persen.

BPS memantau inflasi month-to-month tercatat bahwa setelah beberapa bulan terakhir di Kota Jayapura mengalami fenomena deflasi secara terus menerus, pada November 2019 justru terjadi pembalikan arah atau terjadi inflasi.

Hal serupa juga terjadi di Merauke yang sebelumnya mengalami deflasi selama empat bulan secara berturut-turut pada November 2019 justru mengalami inflasi yang cukup tinggi. Memperhatikan besaran capaian inflasi tahun kalender serta inflasi yoy di kedua kota tersebut, BPS Provinsi Papua menilai bahwa kondisi inflasi masih terkendali.

Secar umum, mengingat besaran andil penyumbang inflasi di kedua kota tersebut didominasi oleh kelompok bahan makanan, maka pemerintah perlu mengantisipasi potensi gejolak harga dimasa mendatang khususnya menjelang Natal dan Tahun Baru.

“Ketersediaan stok bahan makanan pokok di pasaran perlu dipantau oleh pemerintah besert Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) agar potensi gejolak harga dapat dikendalikan dan diantisipasi sejak dini”. Tutup Simon. (Ananda)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here