JAYAPURA, Reportasepapua.com – Cukup kaget dengan kondisi terkini penyebaran virus Covid 19 hingga akhir Maret ini. Bayangkan saja 185 negara-negara di dunia kini sedang berperang membasmi virus yang disebut muncul dari hewan tersebut.  Desember 2019 menjadi momentum dimana virus mematikan ini muncul dan Ibu Kota Provinsi Hubei, Wuhan. Wuhan menjadi daerah yang disorot karena menjadi  titik awal penyebaran virus tersebut. Terlepas dari lokasinya, negara-negara dunia kini tengah bergotong royong mengeliminir penyebarannya.  

Saya pribadi awalnya menduga ini hanya trik untuk memenangkan opini dari perang dagang antara Amerika  dan China yang terus memanas setahun terakhir namun setelah kondisinya berkembang, ternyata betul bahwa Corona bukan sekedar isu murahan yang tak bisa ditangani pelan-pelan. Harus ngotot dan tegas. Indonesia patut belajar dari Negara Italia yang awalnya menganggap sepele dan melakukan aktifitas  seperti semua baik-baik saja akhirnya kini Italia menjadi negara dengan kematian tertinggi.  Lebih tinggi dibanding China malah.

 Tercatat 4.032  orang di Italia meninggal karena virus ini sedangkan di China sebanyak 3.255 orang. Bahkan sejak Sabtu (22/3) kemarin di Wuhan tak lagi ditemukan pasien baru yang positif. Sementara di Italia dalam 24 jam terdapat 627 kematian akibat virus ini dan harus diakui bahwa Eropa menjadi pusat penyebaran yang paling masive.  Bisa dibayangkan bagaimana repotnya memakamkan jenasah sebanyak ini. Makanya tak heran jika truk-truk besar milik tentara disana dikerahkan mengangkut ratusan jenasah setiap harinya.

 Italia yang merupakan negara dengan 60,48 juta penduduk yang memiliki tenaga medis kelas wahid kini harus mengisolasi diri. Hanya bisa menyapa dibalik jendela. Namun baiknya di Italia ada 5.129 orang dinyatakan sembuh. Nah bagaimana  dengan Indonesia termasuk Papua?. Mirisnya adalah meski di Indonesia baru diumumkan  positif terjangkit Corona para 2 Maret lalu dimana ada 2 orang dinyatakan positif, kini Indonesia yang  sempat dianggap negara yang aneh karena belum ditemukan ada warga yang positif justru menjadi negara kedua dengan tingkat kematian tertinggi di dunia. Apakah kita sama seperti Italia yang menganggap remeh dan lambat bereaksi? Bisa jadi.

 Angka terakhir pada 21 Maret lalu di Indonesia bertambah 81 orang yang positif terjangkit dan menyentuh angka 450 orang yang telah terinveksi virus Corona dengan 38 orang dinyatakan meninggal. Secara umum Corona telah menginveksi 200 ribu lebih manusia dan mengambil 11. 000 lebih nyawa manusia. Nah dengan karakter dan tabiat masyarakat yang suka bandel dan mbeling (keras kepala dalam istilah Jawa)  membuat pemerintah harus agresif.

 Harus berteriak, merotan kalau perlu. Jangan lagi berbicara instruksi apalagi himbauan sebab karakter manusia sekarang suka mbeling tadi. Jangan  karena satu dua orang yang bandel akhirnya menjadi wabah yang merugikan banyak orang dan melumpuhkan sendi-sendi kehidupan. Dan ingat bahwa pemahaman soal virus ini belum masive hingga ke arah rumput. Penjelasan maupun sosialisasi terbaik justru hanya diperoleh melalui media sosial dimana ada juga yang hoax. Lalu siapa yang dipercaya?. Bagaimana dengan mereka yang tak  menggunakan Hp android? Yang tinggal di kampung atau dusun?

 Bisa dibayangkan jika di daerah pelosok ada yang dinyatakan positif lalu pihak keluarga yang tak tahu soal virus ini terus beraktifitas bersama satu rumah, bersentuhan, tidur bersama dan pemahaman soal kebersihan masih sangat rendah. Disinilah tugas pemerintah untuk bisa memberikan pemahaman yang baik tanpa harus membuat panik yang akhirnya memunculkan stigma.

 Saya menduga munculnya virus ini ceritanya akan sama seperti pertama kali HIV AIDS ditemukan tahun 1996 di Papua . Jika ada yang positif maka akan dijauhi bahkan kemungkinan akan dikucilkan dengan anggapan bahwa orang tersebut membawa sial. Ini bisa diatasi bila ada yang menjelaskan secara baik. Virus Covid 19 sendiri hingga kini hanya menyebar lewat  droplets atau percikan batuk atau dahak. Makanya saat ini lagi trend batuk juga harus pakai etika. Dari cairan yang terjadi karena kontak fisik ini jika tempatnya ditangan kemudian tangan tersebut memegang wajah maka virus ini bisa masuk lewat tiga tempat takni mukosa mata, mukosa hidung dan mukosa mulut.

 Karena itulah dianjurkan untuk lebih sering mencuci tangan agar tangan menjadi steril ketika memegang wajah. Lalu belakangan ini  orang banyak berburu masker ataupun hans sanitizer. Masker dan hand sanitizer yang dulunya jarang dipakai kini menjadi sesuatu yang wajib kalau kemana-mana. Ini bagi saya hanya bentuk kepanikan mengingat peruntukkan masker sejatinya lebih tepat digunakan untuk mereka yang sedang bergejala. Digunakan agar tak menjangkit yang lain. Ada gagal paham disini.

 Namun yang terjadi panic buying. Semua orang ingin membeli dan menggunakan  hingga akhirnya menjadi barang langka. Hanya saja belakangan  ramai penjualan masker secara online dan ada juga yang digrebek karena memanfaatkan masker bekas yang  dicuci dan dijual kembali. Soal masker ini jika pemerintah Papua bersedia menyiapkan Rp 171 miliar untuk menangani virus paling tidak persoalan masker teratasi. Akan tetapi masker tidak 100 persen memberi jaminan tidak tertular mengingat surgical mask yang biasa dipakai hanya mampu menahan virus 80 persen dan masker ini hanya bertahan 6 jam. Ini berbeda dengan masker N95  yang bisa menahan virus 100 persen namun harganya lebih mahal.

 Saya berpendapat ketimbang berburu masker mengapa masyarakat tidak melindungi dirinya dengan daya tahan tubuh yang baik. Memperbaiki imun agar tak mudah terserang virus. Banyak artikel yang sudah disampaikan bahwa untuk imun dimana jambu biji,  perasan jeruk nipis, buah naga ataupun jahe, maju dan kencur setiap hari bisa memperbaiki imun sehingga tak perlu harus kepo dengan masker yang kesannya justru lebay. Mudahnya, ketimbang beli masker mending beli multivitamin.

 Mirisnya lagi disaat orang sehat berburu masker dengan alasan mengantisipasi, disituasi lain ada  puluhan bahkan ratusan dokter sedang berjuang bersentuhan langsung dengan pasien positif Corona hanya dengan peralatan seadanya dan tidak sesuai standart. So.. apakah virus yang jahat atau manusia dengan kepanikan dan  ketamakannya yang secara tidak langsung justru membunuh orang lain.

 Apalagi pemerintah sudah menginstruksikan untuk melakukan social distance atau melakukan karantina mandiri di rumah dengan tidak beraktifitas di luar rumah. Kalau ini dilakukan tentunya tak perlu lebay dengan masker. Salah satu sahabat saya yang bekerja sebagai petugas medis menyayangkan sikap orang berbondong-bondong memborong masker dan hand sanitizer mengingat mereka yang setiap hari akan bersentuhan dengan pasien bertatus positif. Ini diwajibkan melengkapi diri dengan Alat Pelindung Diri (APD). Mirisnya untuk Papua APD sangat minim.

 Dari 5000 unit yang dibutuhkan, Papua hanya memiliki tak lebih dari 100 unit sehingga dua hari lalu petugas medis harus mengakali dengan membeli mantel hujan dan masker seadanya. Ada beberapa latban yang juga dibeli untuk memastikan  bahwa APD darurat yang digunakan  bisa lebih memproteksi, steril dari percikan. APD sendiri terdiri dari  masker N95, kacamata transparan, baju anti air dari kepala hingga kaki, sepatu, helem dan sarung tangan karet.

 Menurut salah satu anggota Satgas Covid 19 Papua, dr Aaron Rumainum untuk satu pasien Pasien  Dalam Pengawasan (PDP) dibutuhkan 260 an APD. Nah di Papua sendiri jumlah terakhir adalah 9 orang PDP dimana 472 lainnya berstatus Orang Dalam Pantauan (ODP). Pemerintah perlu mengambil langkah segera. Melakukan karantina mandiri dengan berdiam di rumah terbukti cukup efektif menekan penyebarannya dan ini juga yang digunakan oleh negara-negara terjangkit. Hanya yang jadi soal apakah di Papua bisa diterapkan? Rasanya sulit jika tak pakai rotan.

 Jayapura maupun Kabupaten Jayapura warga tetap melakukan aktifitas seperti biasa, namun Jayapura terbilang responsif dimana kepala daerahnya memimpin langsung operasi penertiban. Sejak minggu kemarin Satpol PP juga mulai diturunkan menertibkan warga yang nongkrong berkelompok bahkan sampai masuk ke pusat perbelanjaan. Ini berbeda dengan di Kabupaten Jayapura dimana Sabtu kemarin warga beraktifitas seperti biasa.

 Di Pasar, Cafe  maupun jalan-jalan tetap ramai padahal Sentani menjadi satu pintu masuk. Sekali lagi, pendemi ini tak bisa dilakukan sendiri tetapi bersama-sama dan kompak. Ayolah, hanya 14 hari untuk berdiam diri dan itu bisa isi dengan berkumpul bersama keluarga, memasak dan makan sama – sama merawat tanaman atau hal-hal yang sulit dilakukan saat waktu normal atau saat waktu kerja.

  Jika anjuran pemerintah tidak dipatuhi   ya percuma saja  waktu libur selama 14 hari. Virus masih terus menyebar. Ini harusnya dilakukan masive tidak hanya satu dua kelompok tetapi seluruhnya termasuk pejabat. Yang baru datang dari luar Papua apalagi daerah terjangkit seperti anggota DPR maupun pejabat di eksekutif sepatutnya dengan kesadaran melakukan karantina mandiri selama 14 hari. Pejabat patut memberi contoh agar masyarakat meniru. Bukan sebaliknya.

Hal kecil yang bisa jadi pembelajaran adalah ketika Jembatan Ring Road dibuka dan sepekan kemudian sudah seperti pasar malam, tumpah ruah bahkan kalau ada space lebih bisa saja ada yang bermalam dan bakar-bakar ikan di lokasi tersebut. Namun seiring ketegasan aparat dengan melakukan sweeping dan merazia termasuk terjadinya kecelakaan maut berkali-kali akhirnya masyarakat paham dan kini lokasi tersebut steril.

 Terkadang manusia sekarang harus diberi contoh konkrit baru bergerak. Harus dirotan dulu baru berubah. Hajar saja demi kebaikan orang banyak, jangan akhirnya mewabah dan saya akan menulis jika pemerintah gagal karena terlalu lemah dalam menegakkan aturan. Pemerintah harus tegas sebelum Papua  bernasib sama seperti Italia, memilih siapa yang berikutnya akan mati. Meninggal tanpa ditemani orang terkasih. Orang dicintai justru takut mendekat dan hanya bisa melihat jenasah dibalik jendela kaca.  Khususnya Kota Jayapura, jika Jayapura merupakan smart city yang didukung dengan sistem yang baik dalam pelayanan publik, maka masyarakatnya juga harus mengimbangi. Berfikir cerdas dan tepat. Melakukan self isolation adalah satu obat agar tak terjangkit.

 Tak perlu lock down lock down, cukup mengisolasi diri anggap saja itu bagian dari lock down. Jika sudah mengisolasi tentunya kita tak perlu kepo dengan masker, tak perlu hand sanitizer. Cukup menjaga lingkungan dan kebersihan diri serta mengkonsumsi makanan bergizi serta terus berdoa. Jangan menganggap karena Papua telah dinyatakan positif. Tak bisa dibuat santai apalagi menganggap bahwa Papua tidak akan terjangkit.

 Ingat sekalipun sembuh, paru-paru kita akan tetap rusak sehingga tak perlu sok-sok an dengan berhela-hela di luar rumah. Bayangkan jika ternyata salah satu dari kita dinyatakan postif dan semakin sulit tertolong. Kita akan meninggal dengan tidak disaksikan oleh keluarga tercinta. Meninggal dalam kesendirian. Dan meski angka fatalitas atau penyebab kematian dari virus ini sebesar 3,4 persen menyebut penyebab kematian tertinggi karena ada penyakit komorid atau penyakit penyerta semisal pasien tersebut sebelumnya memiliki riwayat penyakit TBC, HIV maupun jantung namun siapa saja sangat berpotensi bisa terjangkit. “Termasuk saya” (baca dalam hati). (*)

Penulis : Abdel Gamel Naser

Penulis adalah wartawan Cenderawasih Pos.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here