Polda Papua Tangkap Pelaku Penyebaran Berita Hoax dan Isu Sara

0
195
Subdit Siber Ditreskrimsus Polda Papua berhasil mengamankan pelaku berinisial AD (52) atas perkara ITE yaitu penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian di media social, Minggu (10/10/2019). (foto/anto)

JAYAPURA, REPORTASEPAPUA.COM – Subdit Siber Ditreskrimsus Polda Papua berhasil mengamankan pelaku berinisial AD (52) atas perkara ITE yaitu penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian di media social, Minggu (10/10/2019).

Pada hari Minggu tanggal 6 Oktober 2019 pukul 08.30 Wit berdasarkan Laporan polisi Nomor LP/534/X/2019/SPKT/Polda Papua, Subdit V Siber Polda Papua yang dipimpin Kasubdit V Kompol Cahyo Sukarnito SIK melakukan tindakan kepolisian yaitu penangkapan, penggeledahan dan penyitaan di jalan Jeruk Nipis Kotaraja (depan RS Bhayangkara) terhadap pelaku berinisial AD (52) yang disaksikan oleh Ketua RT setempat dan saksi saksi.

Pelaku AD (52) diduga melakukan perkara ITE sebagai pembuat, penyebar video hoax, provokasi, SARA n penghinaan terhadap institusi pemerintah, TNI dan Polri terkait kejadian demo di Jayapura beberapa waktu yang lalu.

Dalam Pers Rilis Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Drs. Ahmad Musthofa Kamal, SH mengatakan pelaku berinisial AD (52) menyebarkan video berita bohong, bahwa seolah-olah telah terjadi pembakaran tempat ibadah dan penyerangan yang dilakukan kelompok masyarakat tertentu yang diposting melalui akun facebook Lehiun Tandabe.

“Atas perbuatannya pelaku di jerat dengan pasal 45A Ayat (2) Jo Pasal 28 Ayat (2) UU RI No 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik dan Pasal 14 Ayat (2) dan/atau pasal 15 UU RI No 1 Tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana. Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan ras kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agam, ras dan antargolongan (SARA) dan Barang siapa menyiarkan suatu berita atau mengeluarkan pemeberitahuan yang dapat menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, sedangkan ia mengerti setidak-tidaknya patut dapat dapat menduga bahwa kabar demikian akan atau sudah dapat menerbitkan keonaran dikalangan rakyat dengan Pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah),” Tegas Kamal. (redaksi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here