JAYAPURA, Reportasepapua.com – Salah satu perusahaan tambang mineral tembaga, perak dan emas terbesar didunia, PT Freeport Indonesia (PTFI) terlihat mulai secara perlahan tetapi pasti meninggalkan titik kritis Penanganan dan penanggulangan dampak Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang melanda karyawannya. Ini juga Mengakhiri berbagai upaya Politik praktis dari pihak tertentu untuk menghentikan secara total operasi tambang dengan mengatasnamakan pertimbangan “kemanusiaan”.

Hal itu disampaikan intelektual muda Orang Asli Papua (OAP), Habelino Sawaki, SH., M.Si (Han) saat dihubungi lewat telepon selularnya di Jayapura, Sabtu Pagi. 6 Juni 2020.

“Semua orang mengetahui bahwa PAD Papua dan geliat ekonomi masyarakat di Provinsi Papua banyak bergantung pada sektor pertambangan, dimana Freeport sebagai salah satu perusahaan tambang mineral tembaga, perak dan emas menjadi penentunya. Karena itu,
apabila Freeport beroperasi secara normal maka dengan sendirinya roda perekonomian Papua akan berputar dengan sangat lancar dan perekonomian masyarakatpun akan cerah, sebaliknya jika terhambat maka perekonomian pun akan mandek,” Tegas Habelino.

Habelino menambahkan, Perputaran roda perekonomian Papua pada beberapa bulan terakhir masa pandemi Covid19 ini sangat melemah dan bahkan mendekati titik paling rendah (nadir) akibat tidak lancarnya operasi tambang PTFI. Didalam situasi yang sangat sulit itu, justru terjadi berbagai manuver politik praktis sangat masif yang diduga dilakukan orang atau kelompok orang tertentu dengan agenda politik tertentu untuk menghentikan secara menyeluruh operasi pertambangan tersebut.

Upaya politik praktis mengentikan operasi tambang secara menyeluruh itu diusung dengan wajah “kemanusiaan”. Demi kemanusiaan, agar tidak terjadi kehilangan nyawa karyawan dan keluarganya maka operasi tambang Freeport harus segera ditutup secara total dan karyawan
diliburkan dalam waktu yang tidak ditentukan.

Menurut alumni Universitas Pertahanan (Unhan) Jakarta ini, sejak Indonesia dilanda pandemi Covid-19, terdapat dua persoalan besar dan sangat krusial melanda Freeport yaitu pertama, persoalan pandemi Covid-19 dimana cukup banyak karyawan perusahaan ini terpapar virus yang mematikan yang mengharuskan Manajemen Puncak segera mengatur jadwal kerja karyawannya sekaligus mengambil langkah cepat Menanggulangi pandemi ini sesuai protokol kesehatan yang diberkan Pemerintah dan WHO.

“Persoalan kedua, adalah di dalam situasi yang sangat krusial menyangkut keselamatan nyawa semua karyawannya termasuk keluarga karyawan itu, justeru diduga ada pihak-pihak tertentu dengan mengatasnamakan kemanusiaan dan keselamatan nyawa manusia, berupaya secara masif agar PT Freeport Indonesia mengehentikan secara menyeluruh operasinya terutama di areal tambang bawah tanah. Padahal orang tidak berpikir jauh bahwa meningglkan tambang bawah tanah tanpa perawatan yang terys-menerus akan berdampak sangat buruk,” Ungkap Habelino.

Mantan Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Papua Indonesia (Gemapi) ini Menuturkan, Dari Dua tantangan krusial , ini benar-benar mengharuskan manajemen dan semua karyawannya berjibaku untuk mengatasinya. Sehingga Pandemi Covid-19 harus diatasi dengan kebijakan dan langkah-langkah nyata dan strategis di bidang medis, yang terlihat cepat dan akurat serta kebijakan manajemen dibidang pencegahan Covid-19 sesuai protokol kesehatan yang diberikan Pemerintah dan WHO.

“Harus dilakukan adalah dengan membuka Laboratorium Rujukan Diagnosis Covid-19, meningkatkan jumlah rapid test, menambah kapastitas pemeriksaan dan mendatangkan PCR (Polymerase Chain Reaction) yang dengan cepat mendeteksi virus yang mematikan itu. Sedangkan upaya politik praktis menghentikan operasi tambang yang diduga dilakukan oknum dan kelompok politik tertentu diupayakan melalui berbagai langkah antisipatif, proaktif dan pendekatan ke berbagai lini serta mengaktifkan peran Kehumasan seperti bekerjasama dengan berbagai media, terutama di Jakarta, Timika dan Jayapura secara sistematis dan menyeluruh tanpa mengenal waktu dan tempat,” Tuturnya.

Habel Berharap, Mereka dapat menyadari bahwa setiap media punya gaya dan strateginya masing-masing serta memiliki kelompok pembacanya sendiri yang fanatik. Atas dasar itulah, mereka berjibaku memenangkan “pertarungan” yang sengit di belantera politik pertambangan mineral tembaga, perak dan emas itu.

“Timika sebagai pusat operasi tambang dan Jayapura sebagai pusat perpolitikan dan perekonomian Tanah Papua, maka pada hari-hari ini, kita dapat menyaksikan, bahwa Freeport secara pasti, langkah demi langkah dan terukur mulai meninggalkan puncak masa kritisnya menuju situasi normal dengan tetap memperhatikan “kenormalan baru” yang diamanatkan Pemerintah.

“Dengan demikian, diharapkan perkekonomian Papua mulai menggeliat lagi dan tentu saja didalam situasi yang normal ini akan bermunculan tanda-tanda yang menggembirakan, penuh optimisme di bidang peningkatan Pendapatan Asli Daerah dan peningkatan taraf
hidup masyarakat kecil di kampung-kampung secara menyeluruh,” Harapnya. (Berti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here