JAYAPURA, REPORTASEPAPUA.COM – Warga Jayapura Tak Tinggal Diam dengan Adanya Kasus dugaan Politik uang yang tengah di Usut Oleh Bawaslu Kota Jayapura terkait Penemuan Uang 100 Juta Plus Kartu nama Caleg DPD dan DPR RI 15 April Lalu di kamar 603 Hotel Horison Jayapura.

Sambil Membawa Spanduk dan Pamflet, Puluhan Massa Mendatangi Kantor Bawaslu Kota Jayapura sabtu Pagi (18/04) dan meminta Bawaslu Terbuka soal dugaan kasus money Politik yang mencoreng Demokrasi di Papua ini.

Koordinator aksi Masyarakat Peduli Demokrasi, Rudy Mebri dalam Orasinya Menegaskan oknum caleg yang tertera dalam kartu nama bersama pelaku yang tertangkap bersama uang ratusan juta di salah satu Hotel 14 April malam itu harus keluar dari Tanah Papua.

“Mereka dan turunannya harus di keluarkan dari tanah ini, tidak boleh tinggal di tanah Papua, jangan mereka tinggal disini bersama moyang dan leluhurnya. mereka silahkan pulang Ke kampung mereka,” Tegas Rudy.

Rudi Menambahkan temuan uang bersama foto caleg tersebut merupakan bukti nyata, tapi kenapa Bawaslu Kota Jayapura seolah tak melakukan tindakan. Padahal dalam penangkapan itu jelas ada barang bukti, lantas kenapa belum di proses.

“Jadi kami datang ke sini untuk menanyakan kepada Bawaslu tentang keseriusan menindaklanjuti kejadian OTT yang terjadi, bagi mereka yang bicara itu pidana umum atau pidana pemilu,yang kami tau ada penangkapan dan barang bukti, lantas kenapa tidak di proses,” Tambahnya.

Sementara Jack Puraro menambahkan bahwasanya pihaknya telah berkoordinasi dengan Bawaslu Kota Jayapura dimana saat ini Bawaslu sedang mempersiapkan berkas agar temuan yang saat ini tengah di investigasi tersebut akan di lanjut ke Bawaslu provinsi.

” kami susah sampaikan bahwa kasus ini akan kami kawal, karena kami masyarakat peduli demokrasi di bawah tanah Tabi, kami akan kawal,” katanya.

Menurutnya atas temuan uang bersama foto caleg di tangan MM saat Razia Narkoba Polda Papua, bukanlah rahasia. Masyarat pecinta Damai di Tanah Tabi, kata Jack, datang ke Bawaslu membawa aspirasi dimana kejujuran harus di tegakkan.

“Ini penjahat yang bersembunyi di balik demokrasi, ini jelas dan bukam rahasia, barang yang sudah ditangkap, tapi seolah bisu dan hilang di terpa angin,” Ungkap Jack.

Jack juga menyesalkan para oknum caleg dalam temuan OTT tersebut lantaran tidak memberikan pelajaran politik yang baik kepada masyarakat.

“Keadilan dan kejujuran harus ditegakkan. Mereka ini caleg tapi memberikan pendidikan politik yang tidak berahlak, seolah semua bisa di beli, dan ini kesalahan politik, maka harus di tindak tegas dan tidak boleh di biarkan,” katanya.

Sementara itu Komisioner Bawaslu Papua, Amandus Sitomorang saat dikonfirmasi reportasepapua.com Mengakui hingga saat ini pihaknya masih mengusut dugaan politik uang ini.

“Saya sudah jelaskan dari  awal bahwa apa yg dilakukan Bawaslu Kota kami yang arahkan agar segera imvestigasi agar ada pintu masuk pengawas pemilu, karena saat OTT Bawaslu dan Gakkumdu tidak ada di TKP, klu saat itu jajaran pengawas pemilu ada maka segera dijadikan temuan tapi  karena tidak ada maka mekanismenya adalah Investigasi untuk menentukan siapa terlapor, siapa saksix,” Tegas Amandus.

Sekedar di ketahui, Oknum Pejabat inisial MM kedapatan membawa dana senilai Rp100 juta rupiah bersama dua kartu nama caleg, Barang bukti tersebut di peroleh Polisi di dalam brankas hotel tempat MM menginap dikamar 603 Hotel Horison Jayapura 15 april malam lalu.

Dilansir dari pemberitaan di media online di Jayapura , Pengacara MM menjelaskan kronologis kejadiannya pada hari Senin tgl 15 April 2018 sekitar Jam 17.30 WIT terduga  di cegat  oleh 7 orang petugas gabungan Polda Papua dan Polresta Jayapura dengan pakaian preman yang membawa surat penggeledahan ketika hendak keluar dari lobi hotel, Kemudian Petugas menunjukkan surat penggeledahan namun  tidak ada nama terduga  yang tertera dalam surat tersebut, sehingga tidak jelas siapa yang harus di geledah.

Dengan demikian korban merasa keberatan untuk di geledah kamar hotelnya tapi setelah bernegosiasi Korban akhirnya mengalah untuk di geledah kamar hotel, namun  mengajak 3 karyawan hotel yang menemaninya agar ikut menyaksikan penggeledahan tersebut.

Adapun hasil dari penggeledahan kamar hotel tersebut tidak ditemukan bukti barang haram  satupun seperti yang dituduhkan, polisi hanya menemukan Uang seratus juta rupiah yang disimpan di dalam berangkas hotel,Uang seratus juta tersebut kemudian dibawa oleh polisi, korban merasa keberatan kalau uang dalam berangkas tersebut dibawa sebagai barang bukti karena uang tersebut ada dalam berangkas, tetapi polisi mengatakan dari pada uang tersebut nantinya hilang di hotel mending kita bawa,sempat terjadi ketegangan kecil, akhirnya terduga dan uang 100 juta di bawa ke Polresta untuk di tetap dimintai keterangan, tutur Iriansyah kepada awak media.

Karena kasus ini  tidak ditemukan bukti, maka tepat pada hari selasa jam 23.30 WIT korban sudah di lepaskan dan kembali kerumah berkumpul bersama keluarga. Atas kejadian ini, Iriansyah  mengucapkan terima kasih kepada Kapolres Jayapura dan Kapolda Papua  atas professionalisme Kepolisian yang sangat bijak dalam melihat kasus ini. Dan peristiwa ini menjadi pelajaran dalam penegakan hukum karena penggeledahan Narkoba yang tidak menemukan barang bukti serta hasil test urin yang Negatif di giring seolah-olah telah terjadi OTT seperti yang diberitakan  oleh media online lokal dan nasional. (Redaksi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here