JAYAPURA, REPORTASEPAPUA.COM – Anggota DPR RI Akan Mendorong Percepatan Pembangunan Kesehatan di Provinsi Papua Usai dilantik menjadi Anggota DPR RI periode 2019 – 2024, Yan P Mandenas, SSos, MSi melakukan kunjungan kerja ke Polda Papua dan RSUD dok 2.

Anggota DPR RI dari Partai Gerindra ini, disambut langsung Plt Direktur RSUD Jayapura, dr Aloysius Giyai bersama manegemen dan dilanjutkan mengunjungi sejumlah pekerjaan besar untuk menuju Rumah Sakit bertaraf internasional terbaik di Asia Pasifik.

Merupakan kunjungan perdana sebagai Anggota DPR RI dari dapil Papua, dr. Aloysius Giyai pun langsung mengajak Yan Mandenas untuk melihat sejumlah bangunan yang sementara proses di kerjakan dan telah di rombak dan akan di sulap menjadi rumah sakit termegah di Provinsi Papua ini.

Bahkan, Aloysius Giyai yang juga merupakan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, langsung memaparkan rencana 4 tahun ke depan untuk merubah wajah RSUD Jayapura yang lebih baik lagi, termasuk dalam pembangunan sejumlah gedung dan sarana prasarana.

“Setidaknya, dibutuhkan Rp 1,5 triliun untuk menyelesaikan rencana besar RSUD Jayapura ini dalam empat tahun. Karena pada tahun 2019, kita sudah awali proses pembangunannya, termasuk gedung critical center yang sudah hampir 10 tahun tidak selesai,” jelaa Aloy Giyai kepada wartawan di sela-sela kunjungan.

Sebagai penggagas rumah sakit termegah dan bertaraf Internasional yang akan berdiri di Provinsi Papua, Aloysius pun mengingatkan, jangan hanya fokus pada pelaksanaan PON saja tapi mengabaikan pelayanan kesehatan masyarakat.

Untuk itu, Aloysius berharap, RSUD Jayapura yang akan dibangun menjadi rumah sakit bertaraf Internasional, diresmikan oleh Gubernur Lukas Enembe dan Wakil Gubernur Papua, Klemen Tinal sebelum masa jabatannya berakhir.

Usai mendengarkan paparan itu, Anggota DPR RI yang juga merupakan mantan Ketua Komisi V DPR Papua bidang Kesehatan, Yan Mandenas menilai jika anggaran untuk membangun RSUD Jayapura Rp 1,5 triliun, tidak besar. Apalagi, untuk menyelamatkan seluruh orang Papua.

“Saya pikir kalau anggaran untuk bangun rumah sakit, untuk menyelamatkan seluruh orang Papua, anggaran Rp 1,5 triliun itu tidak besar, itu nilainya kecil kalau APBN,” kata Yan Mandenas.

Hanya saja lanjut Yan Mandenas, jika mengandalkan APBD Papua tentu sangat besar. Namun hal itu tergantung konsep pembangunan rumah sakit termegah di Asia Pasifik itu, diterima DPR, tetapi juga diterima Kementerian Kesehatan agar mendorong pengembangan rumah sakit rujukan terbaik dan termegah di 34 provinsi.

Menurut Yan Mandenas, untuk di Papua memang harus dibangun rumah sakit berstandar internasional, sehingga perlu dibangun gedung dan SDM, termasuk mengisi fasilitas dan sarana prasarananya.

Kata Mandenas, meskipun untuk pendidikan, sudah ada peletakan dasar di Papua dengan pengiriman mahasiswa study ke luar negeri, tapi tidak cukup sampai di situ, karena Papua juga harus bangun universitas terbaik bertaraf Internasional.

Untuk itu, lanjut Yan Mandenas, rumah sakit ini memang menjadi sarana dan prasarana penunjang bagi keberlangsungan hidup orang yang ada di Papua, khususnya orang asli Papua maupun saudara-saudara kita yang di Papua.

Okeh karena itu Yan Mandenas meminta managemen RSUD Jayapura untuk menyiapkan dokumen lengkap dengan proses perencanaan dan data-data pendukung, sehingga mimpi besar Plt Direktur RSUD Jayapura, Aloysius Giyai bersama Pemprov Papua untuk membangun rumah sakit termegah ini bisa menjadi dasar untuk disampaikan ke pemerintah pusat.

“Tentunya pasti akan diterima sehingga harus di dorong. Yang terpenting hari ini adalah meloloskan program ini masuk dalam program kementerian kesehatan.
Itu yang paling pertama, jadi masuk dulu dalam ususlan Kementerian Kesehatan, nanti soal anggaran, itulah yang kami kawal di DPR. Kawal lewat komisi terkait, kawal lewat anggota DPR dari dapil Papua, kemudian kawal lewat badan anggaran DPR RI,” jelas Yan Mandenas.

Apalagi ujar Yan Mandenas, bangunan gedung khususnya, ini bisa dukung dari dana APBN. Khusus bangunan gedungnya, termasuk pengadaan peralatan kesehatan.

Menyangkut SDM-nya, kata Yan Mandenas, tentunya membutuhkan dukungan dari Pemprov Papua, sehingga bisa dihitung dan meminta kuota kepada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara untuk mengisi rumah sakit itu agar 2023 sudah bisa terealisasi.

“SDM RSUD Jayapura ini, juga harus siap untuk pelayanan kesehatan. Saya pikir dengan begitu kita akan sinkron baik itu secara kebijakan pemerintah, birokrasi dan secara politis kita akan sama-sama berkoordinasi untuk mendorong percepatan pembangunan kesehatan di Provinsi Papua,” tandasnya.

Yang jelas, sebagai perwakilan dari Papua, Yan Mandenas tetap mendukung pembangunan RSUD Jayapura bertaraf internasional itu, sehingga ia menyarankan Pemprov Papua tidak mengganti direktur RSUD Jayapura.

“Ya, kalau direktur memimpikan konsep besar ini, jangan diganti – ganti lagi. Biar saja kasih tanggungjawab sampai selesai rumah sakit ini, baru kemudian diganti atau kemudian ada evaluasi, silahkan. Tapi kalau tiap tahun ganti-ganti direktur itu program jangka panjang tidak akan berjalan dengan maksimal,” tekannya.

Apalagi, ungkap Yan Mandenas, waktu ia menjabat Ketua Komisi V DPR Papua terus berupaya menggenjot direktur dan jajarannya harus diberikan masukan agar memperbaiki kinerja mereka di rumah sakit.

“Saya pikir, ya prinsipnya bahwa kami akan mendorong konsep dan gagasan besar yang diinginkan oleh Pemprov Papua melalui direktur atau Plt direktur RSUD Jayapura, Dr. Aloysius Giyai ini,” tegas Yan Mandenas atau disingkat YM. (Tiara)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here